Hoax di Tengah Covid-19, Mana Peran Kemenkoinfo?

Sudah lima bulan Indonesia diserang Covid-19. Berbagai upaya dilakukan untuk mengerem laju pandemi. Masyarakat sudah mulai kehilangan akal sehat. Pemerintah seakan tak berdaya.

Bertahan selama 5 bulan dalam keadaan tidak bekerja, dan yang bekerja pun penghasilannya hanya separuh dari kondisi normal, adalah sesuatu yang luar biasa. Daya tahan manusia Indonesia patut diacungi jempol. Tetapi, di sisi lain kita juga menyaksikan, bahwa masyarakat sudah mulai acuh terhadap Covid-19. Mereka tidak lagi menghiraukan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh WHO, organisasi kesehatan dunia. Di sisi yang lain pula, dengan caranya sendiri, masyarakat mulai mencari obat-obat alternatif untuk pencegahan dan penyembuhan dari serangan Covid-19.

Ragam ikhtiar itu sah-sah saja, dan wajar. Tetapi, ada yang tidak wajar, bermunculan berita-berita hoax, dan tokoh-tokoh dadakan yang tiba-tiba viral karena mengaku telah menemukan obat untuk mengatasi Covid-19. Bagi sebagian masyarakat yang relijius, akan kembali ke Sang Pemlik Hidup, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi, bagi mereka yang masih percaya pada kepercayaan lama, mereka minta bantuan pada leluhur, bebatuan, gunung-gunung, dan lautan. Semua fenomena itu kini terjadi di negeri yang katanya “Gemah ripah loh jinawi” (tentram dan makmur serta sangat subur tanahnya), ini.

Jika mengikuti alur-pikir ahli administrasi negara dari AS, Fred W Riggs, dari masyarakat tradisionil ke masyarakat moderen, ada masyarakat transisi yang berada di tengah-tengah. Itulah masyarakat Prismatik. Masyarakat transisi ini mulai meninggalkan nilai-nilai lama (meskipun tidak sepenuhnya) menuju nilai-nilai baru (yang juga belum sepenuhnya) . Masyarakat transisi tidak hanya terlihat secara sosiologis, tetapi juga terlihat dalam mengatur birokrasi di pemerintahan.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here