Dongeng Stimulus Pandemi: Krisis Ekonomi Berkepanjangan

Ilustrasi Krisis Ekonomi. Foto: Istimewa

Oleh: Anthony Budiawan

Krisis ekonomi global 2020 menerjang dunia. Hampir semua negara mengalami penurunan ekonomi cukup dalam. Krisis ekonomi 2020 ini jauh lebih buruk dari krisis finansial global 2007/2008.

Ekonomi Amerika Serikat turun 9,5 persen pada Q2/2020 dibandingkan Q2/2019, atau Year-on-Year (YoY). Singapore turun 13,2 persen (YoY), Jerman turun 11,7 persen (YoY), Inggris turun 21,7 persen (YoY). Dan Indonesia turun 5,32 persen (YoY).

Kejatuhan ekonomi ini tidak bisa dihindari. Karena hampir semua pemerintah di dunia memberlakukan _lockdown_ atau karantina wilayah untuk memutus mata rantai penularan pandemi. Mengakibatkan perdagangan internasional menyusut 14,8 persen pada Q2/2020, YoY.

Menurut data UNWTO (United Nation World Tourism Organization), jumlah turis global turun 98 persen pada Mei 2020 dibandingkan Mei 2019 (YoY). Atau turun 56 persen selama periode Januari-Mei 2020 (YoY). Artinya, terjadi penurunan 300 juta turis, dan kehilangan 320 miliar dolar AS dari sektor pariwisata global, atau sekitar Rp 4.800 triliun.

Selain itu, _lockdown_ maupun pembatasan sosial juga membuat konsumsi dalam negeri anjlok. PDB Indonesia (harga berlaku) pada Q2/2020 anjlok menjadi Rp 3.687,7 triliun, hampir sama dengan PDB pada Q2/2018 yang sebesar Rp 3.686,2 triliun. Berarti, ekonomi Indonesia mundur dua tahun. Dan turun Rp 284,7 triliun dibandingkan PDB Q2/2019.

Stimulus global secara masif tidak bisa menahan kejatuhan ekonomi dunia. Amerika Serikat memberi stimulus 13,2 persen dari PDB, Jerman 8,9 persen dari PDB, Singapore hampir 20 persen dari PDB. Tetapi ekonomi dunia tetap anjlok bagaikan _roller coaster_.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here