Lebanon dan Pengakuan Kemerdekaan Indonesia

Demonstran melakukan protes terhadap pemerintah di Martyrs 'Square, Sabtu (8/8) setelah ledakan mematikan di Pelabuhan Beirut menyebabkan ledakan besar pada 4 Agustus lalu di Beirut, Lebanon. Agensi Anadolu/Houssam Shbaro

Hubungan Indonesia dan Lebanon begitu erat karena faktor historis.  Kedua negara sudah menganggap sebagai saudara dekat

 

Oleh: Fahmi Salim

 

Indonesiainside.id–Sebagai seorang politisi, Dubes Indonesia untuk Lebanon, H.E. Hajriyanto Y. Thohari tentu merasakan banyak persoalan pelik, mulai dari intrik hingga fitnah untuk menjatuhkan citra baik orang lain. Namun, jalan kehidupan akan lebih kokoh jika dilalui dengan fondasi niat karena Alloh. Berbagai jabatan penting pernah diemban Mas Hajriyanto mulai dari Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar hingga Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014. Lalu, Hajri diangkat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Lebanon, pada 7 Januari 2019.

Inilah refleksi pembuka yang disampaikan Dubes Indonesia untuk Lebanon, H.E. Hajriyanto Y. Thohari dalam acara Ngaji Syar’ie (NGESHARE) Spesial Kemerdekaan. Selengkapnya simak di link ini:

Jauh sebelum berkiprah di dunia politik, Hajriyanto lebih dikenal sebagai aktivis dakwah. Lahir dari rahim Muhammadiyah sebagai kader hingga dipercaya sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (Periode 1993-1998). Beliau juga pernah ditunjuk sebagai Ketua Badan Pengurus LAZIZ Muhammadiyah. Semangat dakwah inilah yang mengantarkannya untuk mewarnai dunia perpolitikan di Indonesia.

Menjadi duta besar tentu memiliki misi yang lebih besar membawa kepentingan Indonesia di dunia Internasional. Bagi Indonesia, Lebanon adalah sahabat yang istimewa, karena merupakan negara ke-3 yang mengakui kemerdekaan Indonesia setelah Mesir dan Suriah. Pada tanggal 29 Juli 1947, Lebanon memberikan pengakuan secara de-jure kepada NKRI melalui Presiden Lebanon Bechara El-Khoury.

Saat itu, betapa sulit untuk mendapat pengakuan internasional, karena Belanda berusaha menggunakan lobi-lobi politiknya untuk membatalkan kemerdekaan RI. Para bapak bangsa, seperti Haji Agus Salim beserta tokoh-tokoh Islam lainnya menemui para pemimpin Arab untuk menyampaikan kemerdekaan Indonesia, sekaligus meminta dukungan dan pengakuannya. Karena itulah, menurut Dubes Hajriyanto, hubungan Indonesia dan Lebanon begitu erat karena faktor historis dan kedua negara sudah menganggap sebagai saudara dekat.

Sebagai bukti persahabatan dan persaudaraan, Indonesia menempatkan 1.324 personil TNI di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjalankan misi menjaga perdamaian (peace keeping) di negara yang sering dijuluki Parisnya Timur-Tengah ini. Bahkan, Indonesia mengirimkan kapal perang terbaiknya KRI Sultan Hasanuddin, dengan membawa 120 pasukan, yang dilengkapi dengan helikopter tercanggih.

Indonesia memiliki hubungan bilateral dengan Lebanon, termasuk hubungan ekonomi. Indonesia dan Lebanon telah menandatangani persetujuan mengenai Kerjasama Ekonomi, Teknik dan Ilmu Pengetahuan pada 12 Agustus 1999. Persetujuan Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Lebanon berisi tentang persetujuan terkait Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dan terkait Peningkatan dan Perlindungan Penanaman Modal (P3M/IGA). Sejak persetujuan Kerja Sama Ekonomi yang mulai berlaku pada tahun 2001, Indonesia terus mengalami surplus. Puncaknya, pada tahun 2017, kerja sama Indonesia-Lebanon mencapai level tertinggi yaitu di angka USD 108,9 juta atau sekitar Rp1,58 triliun dengan Indonesia surplus hingga 90 persen.

Namun, perekonomian Lebanon makin terganggu dengan tragedi ledakan besar di pelabuhan Beirut, Ibukota Lebanon yang terjadi pada Selasa, 4 Agustus 2020 lalu. Tentu saja, kita prihatin karena ledakan yang terjadi di gudang amunisi ini telah menewaskan 150 orang, dan melukai ribuan orang. Menurut Dubes Hajriyanto, tidak ada korban dari warga negara Indonesia (WNI), kecuali satu orang pekerja asal Indonesia yang mengalami luka ringan. Bersyukur lagi, KRI Sultan Hasanuddin yang biasa bersandar di pelabuhan Beirut, saat kejadian tengah berpatroli di kawasan Nakura, pinggiran Lebanon. “Saya tidak bisa bayangkan, bagaimana kalau kapal itu sedang bersandar,” ungkapnya.

Selain krisis ekonomi, yang juga paling berat dialami Lebanon adalah krisis politik Lebanon merupakan negara multi agama di Timur Tengah, dan sudah lama terperangkap dalam perang saudara dan konflik di Timur Tengah. Lebanon secara resmi mengakui 18 komunitas agama: 4 Islam, 12 Kristen, sekte Druze, dan Yudaisme. Dalam pakta nasional kemerdekaan tahun 1943, presiden negara itu haruslah Kristen Maronit, sedangkan perdana menteri haruslah Muslim Suni. Sedangkan Kepala Parlemen adalah Muslim Syiah. Karena sektarianisme politik dan kelompok inilah, menyebabkan krisis politik di Lebanon tak pernah berhenti. Generasi muda Lebanon ingin membebaskan dari sistem politik sektarianisme menjadi sistem politik yang terbuka. Sementara itu, golongan tua yang konservatif tetap ingin mempertahankan sektarianisme politik.

Dibanding Lebanon, menurut Hajriyanto, Indonesia lebih modern dalam keterbukaan sistem politik, Meski demikian Indonesia harus banyak belajar dalam hal kemajuan kebebasan berpendapat di Lebanon. Karena, Perancis yang pernah menjajah negeri ini, memberikan pengaruh banyak dalam menjunjung kebebasan, persamaan dan kemandiran. Lebanon termasuk negara perintis modernisasi Arab.

Dibanding negara-negara Arab, yang sebagian besar monarki atau republik tertutup, Lebanon merupakan negara Arab yang berfaham liberal.  Karena itulah, Lebanon, menurut Dubes Hajriyanto, merupakan surga bagi para pemikir bebas. Tak ada larangan untuk mengemukakan pemikiran sekontroversial apa pun.

Tradisi intelektual berkembang di negeri ini, yang salah satunya ditandai dengan majunya percetakan buku modern dan kitab-kitab klasik (turots). Indonesia termasuk yang banyak mengimpor kitab-kitab dari percetakan di Beirut, yang banyak digunakan di kampus-kampus Islam dan pesantren-pesantren.

Saat ini, tengah dijajaki kerjasama dengan percetakan di Indonesia, sehingga bisa memangkas harga kitab sampai 60 persen. Selain itu, Indonesia harus meningkatkan kerjasama pendidikan dan kebudayaan dengan Lebanon. Karena, mahasiswa asal Indonesia mulai banyak yang  berminat mengambil pendidikan tinggi di Lebanon, selain ke Arab Saudi, Mesir, dan Sudan. Saat ini berjumlah sekitar 100 mahasiswa.

Lebanon adalah negeri yang tak pernah lepas dari gejolak politik. Rakyat Lebanon sering melakukan aksi unjuk rasa karena ketidakpuasan terhadap pemerintah akibat krisis ekonomi dan krisis politik.

Terakhir, Perdana Menteri Lebanon Hasan Diab mengundurkan diri karena desakan rakyat pasca ledakan bom di pelabuhan Beirut.  Dalam hal ini, kita patut bersyukur hidup di Indonesia, negeri yang relatif stabilitas politiknya terjaga. Meskipun kita tengah diuji dengan pandemi Covid 19 yang berdampak pada ekonomi bangsa ini, kita tetap harus optimis dan bergandengan tangan saling membantu serta menjaga keutuhan bangsa ini, sehingga suatu saat Alloh Ta’ala mudahkan kita keluar dari krisis global ini. Wallohu ‘alam. (NE)

Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan Komisi Dakwah MUI. Artikel ini disarikan dari Program Ngeshare Bersama Dubes H.E Drs. Hajriyanto Y. Thohari, MA

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here