Belajar Komunikasi Publik dari Raja Medang Kamulan Aji Saka untuk UU Cipta Kerja

Alkisah Raja Medang Kamulan, Aji Saka, yang baru saja bertahta memerintahkan kepada utusannya bernama Dora agar mengambil pusaka yang ia titipkan pada abdi setianya di negeri seberang.

Dora pun menemui Sembodo, sang abdi setia Aji Saka, menyampaikan niatnya, namun Sembodo berkeras menolak lantaran pesan tuannya yang menegaskan bahwa tak ada yang boleh mengambil pusaka itu darinya selain Aji Saka sendiri.

Keduanya pun terlibat dalam perselisihan sengit yang berujung pada saling bunuh satu sama lain. Lama tiada kabar, Aji Saka menyusul dan mendapati keduanya telah menjadi mayat.

Pilu dan sadar akan kesalahannya dalam menimbulkan kesalahpahaman bagi kedua abdi setianya, Aji Saka, menuliskan sebuah bait puisi “hana caraka, data sawala, padha jayanya, maga bathanga”, yang berarti ada dua utusan terlibat dalam perselisihan, mereka sama-sama kuat sampai akhirnya sama-sama menjadi mayat.

Puisi itu kemudian menjadi pangram sempurna dengan kalimat holoalfabetis yang menjadi cikal bakal bagi aksara Jawa yang ada hingga kini.

Meski kisah itu menjadi titik balik bagi berakhirnya kebutaan masyarakat Jawa akan sejarah yang sebelumnya tak teraksarakan (di luar sanggahan dari sumber sejarah yang lain), namun sejati-nya merupakan pelajaran yang sarat tentang pentingnya komunikasi yang baik.

Legenda Aji Saka pun sejati-nya merupakan pelajaran tentang betapa kesalahpahaman membawa pada akibat yang sangat fatal.

Ketika semua sadar bahwa komunikasi adalah tentang “mengerti” dan “paham” sehingga kadang tak terbatas pada kesamaan bahasa melainkan intensitas dan ketepatan menyampaikan. Bukan melulu terbatas pada keharusan menggunakan bahasa yang sama sebab hanya dengan bahasa isyarat pun komunikasi bisa berjalan dengan baik.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here