Habib Rizieq Shihab: Pemimpin Dilarang Berbohong

 

Pembohongan publik dalam pengelolalaan negara bagi suatu pemimpin merupakan kesalahan yang sangat fatal. Karena itu, umat Islam wajib mengikhtiarkan perubahan secara sistematis, terukur dan masif. Bagaimana perubahan yang dimaksud Habib Rizieq?

Indonesiainside.id, Jakarta — Dari Makkah Al-Mukarramah, Imam Besar Umat Islam Habib Rizieq Shihab (HRS) menyerukan jutaan umat Islam yang hadir di Aksi Damai Reuni 212 untuk selalu menjaga ketaqwaan dan berkata dengan jujur dan benar.

“Jangankan urusan besar, urusan candaan atau gurauan dilarang untuk berbohong. Bergurau dan bercanda saja tidak boleh bohong apalagi dalam mengurus umat, bangsa dan negara,” ujar Habib Rizieq, Ahad (2/12).

Dari tengah Kota Suci, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Reuni Akbar 212 dan kehadiran jutaan Mujahid/Mujahidah dari segenap penjuru Nusantara. HRS menyerukan seluruh umat Islam, Mujahid dan Mujahidah untuk selalu menjaga ketaqwaan dan berhukum dengan hukum yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

“Begitu banyak manusia durjana yang mereka tidak tunduk kepada hukum Allah dan tidak mau berhukum dengan hukum Allah,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, HRS mengingatkan bahwa umat Islam yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka dapat dikategorikan dengan kaum yang fasik, dzalim, bahkan kafir.

“Kenapa ayat suci berada di atas ayat konstitusi? Karena ayat suci merupakan ayat Ilahi. Sebagai bangsa Indonesia, kita juga wajib menaati ayat konstitusi. Tapi jika bertentangan dengan ajaran Islam, umat Islam wajib untuk menolak, meluruskannya dan mengembalikan kepada hukum sesuai Alquran dan As sunnah,” ujar Habib Rizieq.

Karena itu, ia menegaskan kepada sejumlah umara bahwa kehadiran jutaan umat Islam bukan ingin menghancurkan UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila. Tetapi untuk menghadirkan persatuan dalam bingkai Ukhuwah Islamiyah.

“Tidak ada suatu Ormas yang mampu mengumpulkan jutaan umat Islam dalam waktu yang sama. Allah yang menghimpun kita semua. Walaupun sudah digembosi, banyak intimidasi, tetapi Allah menunjukkan bahwa kemenangan berada di kaum muslimin yang istiqamah dalam memerjuangkan agama-Nya,” ujarnya.

Penegakan ayat suci merupakan amanat konstitusi UUD 1945. Dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Atas landasan itu, umat Islam wajib menjunjung hukum Allah yang tertuang dalam ayat-ayat suci.

“Jadi jelas bagi kita semua, Indonesia adalah negara beragama. Indonesia adalah negara bertauhid. Dan Indonesia membebaskan seluruh rakyatnya untuk beragama tanpa ada paksaan. Kita bersyukur Indonesia bukan negara komunis, atheis dan sekuler yang tidak menginginkan syariat,” kata HRS.

Melalui Aksi Damai Reuni 212, HRS mengajak umat Islam untuk memerhatikan bahwa sejak lima tahun terakhir ada gerakan secara sistematis untuk melemahkan Islam dan umat Islam. Di antaranya, pembiaran kejadian penistaan agama, pembiaran ketidakadilan, pemberhalaan ekonomi ribawi, pembiaran kemungkaran dan kemaksiatan, dan kebohongan dalam pengelolaan negara.

“Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Rakyat terus dicekoki berita fitnah dan bohong. Astaghfirullahaladzim. Saudaraku seiman dan seaqidah, sebangsa dan setanah air, kondisi buruk ini harus dihentikan. Caranya, wajib melakukan perubahan. Yaitu perubahan ke arah lebih baik,” ujarnya seraya mengingatkan Alquran Surat Ar-Rad ayat 11.

“Jadi jelas, kita wajib melakukan perubahan jika menginginkan Allah memberikan perubahan. Saat ini pintu perubahan sudah semakin mendekat. Karenanya, jangan disia-siakan. Ayo rapatkan barisan melakukan perubahan di NKRI ke arah lebih baik. Ayo ubah negara penuh dusta dan bohong, menjadi negara yang penuh kebenaran dan keadilan,” sambungnya.

HRS menandaskan, jika umat Islam berjuang dengan ikhlas, maka perubahan akan datang kepada bangsa Indonesia. Perubahan itu dimulai dengan haramnya memberikan keberpihakan ke partai yang anti syariat Islam dan berpura-pura paling Pancasila.

“Kami mengamanatkan perjuangan untuk perubahan. Ini amanat untuk perubahan, bukan politisasi reuni. Amanatnya adalah di Pileg dan Pilpres 2019, kita wajib berjuang bersama untuk perubahan. Tanpa sedikitpun keraguan, di Pilpres dan Pileg 2019 haram memilih Capres dan Caleg yang diusung partai-partai pendukung penista agama,” harapnya.

“Ayo kita pilih Capres-Cawapres dan Caleg dari rekomendasi Ijtima Ulama dari partai-partai koalisi keumatan. Jangan khawatir, pertolongan Allah dan kemenangan sangat dekat serta berikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman,” tegas HRS.

Ia juga mengingatkan bahwa Allah memerintahkan untuk berlaku adil tanpa memandang agama, suku, ras, dan golongan. Maka itu, agama apapun tidak boleh dinistakan di Indonesia.

“Sekali saja agama dinistakan, maka semua agama dengan mudah dapat dinistakan. Penistaan agama adalah pelanggaran hukum. Maka itu, stop dan adili pelaku penista agama dengan hukuman seberat-beratnya,” tandasnya.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here