Akademisi Tidak Boleh Partisan

Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSAKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas, Feri Amsari. Foto : Antara

Ini dikatakan Erwin Kallo terkait pernyataan seorang akademisi yang mengatakan Soeharto sebagai guru besar korupsi.

Indonesiainside.id, Jakarta — Pengurus Mahkamah Partai Berkarya Erwin Kallo membantah keras tuduhan Direktur Pusako Universitas Andalas Feri Amsari yang mengatakan Presiden ke-2 RI Soeharto sebagai guru besar korupsi.

Menurut Erwin, Feri Amsari kurang memahami sejarah dengan baik, sehingga melontarkan pernyataan yang tidak berdasarkan data dan fakta.

“Itu pernyataan yang tidak tepat dan sangat subyektif, yang bicara kurang literasi sejarah dan tidak obyektif,” ujar Erwin kepada Indonesiainside.id, saat dihubungi, Senin (10/12).

Karena itu, ia meminta akademisi tersebut untuk mempertanggungjawabkan pernyataannya secara ilmiah. “Tunjukkan dimana korupsinya Pak Harto dan apa yang telah dibuat untuk bangsa ini,” katanya.

Menurut dia, akademisi harus memberikan keterangan secara obyektif dan bebas dari konflik kepentingan (conflict of interest), sehingga menebar kebaikan dan inspirasi bagi bangsa Indonesia.

“Akademisi itu harus obyektif dan rasional, tidak partisan. Tapi sekarang banyak akademisi partisan, mereka nyamar sebagai akademisi dan punya dendam sejarah. Susah mengharapkan akademisi seperti itu karena tidak mencerahkan generasi,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Feri menyebut Soeharto guru besar korupsi lantaran alasan korupsi jabatan. Yang kedua, Feri menganggap Soeharto memberhentikan aparat yang berjuang memberantas korupsi.

(Ahmad Z.R)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here