Mendesak, Penanganan Narkoba Berbasis Masjid

Foto : Lampost.co

Kendati pecandu narkoba berhak untuk direhabilitasi, namun jumlah panti rehab tidak memadai. Bagaimana solusinya?

Indonesiainside.id, Lampung — Kepala Kejaksaan Tinggi Lampung Susilo Yustisinus mengungkapkan, perkara narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) menduduki peringkat pertama tindak pidana umum di Provinsi Lampung dengan jumlah 2.081 perkara selama setahun sejak Januari hingga Desember 2018.

Menanggapi hal ini, aktivis Interzone Fardinand Rabain mengatakan, peristiwa tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi pada saat ini karena karena hampir di semua lapas penghuninya sebagian besar napi narkoba. “Jadi bukan hanya di Lampung saja, apalagi sekarang Indonesia dalam situasi darurat narkoba,” katanya kepada Indonesiainside.id, saat dihubungi, Selasa (11/12).

Menurut penggerak Anti Narkoba Berbasis Masjid ini, jika tidak segera diambil jalan pintas dengan dengan memberdayakan masyarakat dalam penanganannya, maka penjara akan semakin penuh. Walaupun pecandu narkoba berhak untuk direhabilitasi, namun jumlah panti rehab tidak memadai. “Sehingga akhirnya mereka akan menumpuk di penjara,” katanya.

Saat ini Indonesia sudah masuk menjadi negara darurat narkoba. Pada 2015 saja, angka prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia mencapai 5,9 juta orang.

Sementara itu upaya rehabilitasi masih tersendat. Dari target rehabilitasi 100.000 orang per tahun, kemampuan rehabilitasi secara nasional hanya di angka sekitar 18.000 orang per tahun.

Fardinand menyebutkan, Indonesia memiliki 800.000 masjid. Melalui pemberdayaan masyarakat, masjid bisa digunakan sebagai sentral penanganan narkoba di setiap daerah. “Karena tidak mungkin aparat bisa mengamankan dan melayani masyarakat 24 jam sehari,” katanya.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here