Temuan BPPT Ungkap Anjloknya Dasar Laut Saat Gempa Palu

Tsunami melanda Kota Palu dan sekitarnya tiga menit setelah gempa.

Fenomena anjloknya dasar laut saat kejadian Gempa yang melanda Palu dan sekitarnya beberapa waktu lalu mengejutkan para ilmuwan dunia. Temuan ini diharapkan akan mampu menguak secara utuh peristiwa tersebut untuk langkah-langkah mitigasi gempa di masa datang

IndonesiaInside.id, Palu – Hasil penelitian tim riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ata gempa yang melanda Palu dan sekitarnya beberapa waktu lalu mengejutkan dunia. Pasalnya, dasar laut di kawasan itu mengalami penurunan signifikan pasca kejadian sehingga air laut bergerak secara tiba-tiba menerjang daratan.

“Hasil temuan sementara mengindikasikan dasar laut di sebagian teluk merosot akibat gempa. Hal ini turut menyebabkan air bergerak secara tiba-tiba yang kemudian menerjang daratan,” kata Udrekh Al Hanif, peneliti BPPT, selasa (11/12).

Sumber tsunami berjarak sangat dekat dengan Kota Palu mengingat interval antara gempa dan ketibaan gelombang besar hanya berkisar kurang dari tiga menit. Temuan yang didapat dari survei di pesisir pantai Kota Palu menunjukkan penurunan dasar laut setelah gempa berkekuatan 7,8 pada skala Richter mengguncang kawasan itu.

Hanif dan rekan-rekannya berupaya mencari jawabannya pada peta kedalaman laut (bathymetric) di teluk sempit yang mengarah ke Palu. Hal ini dilakukan para ilmuwan agar dapat memahami seutuhnya fenomena tsunami yang melanda Palu dan sekitarnya di Sulawesi Tengah, akhir September lalu.

“Ketika kami mencocokkan data bathymetric sebelum dan sesudah (tsunami), kami bisa melihat bahwa hampir semua bagian dasar laut di dalam teluk menjadi anjlok. Dan dari data ini, kami juga bisa memantau (pergerakan) ke utara. Dengan demikian, sebenarnya, ada pergeseran vertikal dan horisontal,” lanjutnya pada pertemuan Persatuan Geofisika Amerika di Washington DC pada 10-14 Desember 2018.

Seperti diketahui, gempa terjadi pada patahan sesar geser (strike-slip fault), di mana dua lempengan bumi berbenturan dan salah satu lempeng terus bergeser secara horisontal. Konfigurasi ini umumnya tidak dibarengi dengan tsunami besar. Namun kejadian di Palu mengejutkan para ilmuwan.

Dua gelombang besar terpantau, dan yang terakhir merupakan gelombang terbesar, menjangkau daratan sejauh hampir 400 meter.lebih dari 2.000 orang kehilangan nyawa setelah gempa dan tsunami menerpa.

Penyebab lain dari bukti yang dikumpulkan para ilmuwan juga menunjukkan adanya beberapa longsor bawah air yang dapat menjadi faktor penentu munculnya tsunami. Kemungkinan lainnya adalah gerakan dasar laut yang mengarah ke atas di sebuah kawasan dekat Palu, tempat patahan sesar geser terpecah ke jalur berlainan.

Pergerakan secara bersamaan pada kedua jalur itu, bisa jadi menekan lempengan yang berada di antaranya.

“Kejadian ini sangat tidak umum, namun tektonik memberitahu kita bahwa ini bisa terjadi lagi,” kata Finn Løvholt dari the Norwegian Geotechnical Institute kepada BBC.

Finn menyebutkan, hal ini bukan kejadian pertama di Palu. Mungkin ketiga atau keempat yang menimbulkan banyak korban. “Ada kejadian yang mirip pada 1960-an dan 1920-an.” ujarnya.

Hermann Fritz, dari Georgia Institute of Technology di Amerika Serikat, menambahkan bencana Palu menunjukkan tantangan yang dihadapi warga setempat.

“Tsunami ini tiba dengan sangat cepat, hanya dalam beberapa menit.Akibatnya tidak ada waktu untuk peringatan. Itu sangat berbeda dari Jepang (pada 2011), yang ada banyak waktu, lebih dari 30 menit sampai orang pertama meninggal akibat tsunami,”katanya.(oke)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here