Rumah Cemara Pertanyakan Data BNN Soal Pengguna Narkoba yang Mati

Foto : Merdeka.com

Pelarangan total konsumsi narkoba mendorong konsumennya terlibat pasar gelap. Pedagang narkoba secara inovatif menarik konsumen sejak dini dan meningkatkan produksinya untuk dipasarkan dengan harga tidak terkontrol.

Indonesiainside.id, Jakarta — Dua dekade pelaksanaan program pengurangan dampak buruk konsumsi narkoba di Indonesia memastikan bahwa segala perencanaan dan penentuan program layanan perlu berbasis informasi menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.

Koordinator Advokasi Nasional Rumah Cemara Subhan Panjaitan mempertanyakan apakah pengguna napza dapat dikategorikan sebagai tindak pidana (kejahatan) atau isu kesehatan.

Mengutip sumber dari National Institute of Drugs Abuse, Clinical Description, ICD-10, World Health Organization (WHO), Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder, menurutnya pengguna napza lebih tepat dikaitkan kepada isu kesehatan bukan tindak kriminal.

“Saya cukup tertarik dengan isu 50 orang yang mati setiap harinya. BNN (Badan Narkotika Nasional) mencatat ada 3,6 juta pengguna narkoba. Namun, saya tidak pernah mendapatkan data kematian karena overdosis. Saya berharap ada datanya kalau BNN mengklaim ada 50 orang setiap harinya mati,” ujar dia dalam Diskusi Publik di Komplek Parlemen, Senayan, Rabu (12/12).

Lebih lanjut, Subhan memaparkan riset LBH (Lembaga Bantuan Hukum) masyarakat pada 2015, yang menunjukkan dari 522 putusan hakim se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) terhadap pengguna sepanjang 2014, hanya 43 orang yang diberikan putusan rehabilitasi.

“Ini saya pikir kita berada dalam kondisi darurat kesehatan. Karena itu, pemerintah perlu kerja keras dengan menghadirkan solusi jaminan kesehatan secara menyeluruh,” katanya.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here