Hanya Baca Doang Apa Gunanya?

Tes uji baca Alquran bagi kedua calon presiden berlebihan, melanggar konstitusi dan tidak ada hubungannya dengan kompetensi memimpin.

Indonesiainside.id, Jakarta – Menjelang akhir tahun ini beredar luas kabar tentang undangan dari Dewan Pimpinan Ikatan Da’i Aceh, Marsyuddin Ishak, kepada kedua calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto untuk mengikuti uji membaca Alquran di Banda Aceh.

Cendekiawan Islam Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menilai itu berlebihan. Terlebih lagi hal itu melanggar konstitusi dan tidak ada hubungannya dengan kompetensi memimpin.

“Itu yang kita sesalkan. Kita hidup dengan konstitusi. Misalnya, di sekolah ada yang menyuruh belajar agama, itu bagus. Tetapi kalau tidak lulus pelajaran agama, terus tidak naik kelas, ya, itu berlebihan, melanggar konstitusi. Yang diuji itu akhlak,” ujar Komaruddin di Jakarta, (31/12).

Mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu juga menegaskan, yang mestinya diuji adalah integritasnya pada umat beragama. Juga, bagaimana memperjuangkan kepentingan yang beragam.

“Memang kalau orang baca Alquran, tahu gak artinya? Kalau tahu artinya, paham gak maksudnya? Kalau paham maksudnya, bisa mengamalkan gak? Apa hubungannya antara baca Alquran dan kompetensi untuk memimpin?,” tegasnya.

“Ujian nasional saja kan yang diuji matematika, pengetahuan umum. Tapi agama itu kan pendidikan terus menerus. Terus kalau tidak lulus pelajaran agama, gak bisa baca Alquran, lalu gak naik kelas? Itu kan berlebihan,” sambungnya.

Pelajaran agama memang harus, tetapi agama bukan menjadi standar kelulusan karena wilayah operasionalnya berbeda. Misalnya, jika ingin menguji pilot pesawat, maka yang diuji bukan soal dia bisa baca Alquran atau tidak, tetapi menguasai mesin atau tidak.

“Bahwa ia memang orang Islam, bisa membaca Alquran ya bagus. Begitu juga dengan presiden. Kompetensinya kan yang lain,” tuturnya.

Lebih jauh ditambahkannya, tahu dan bisa membaca Alquran saja belum tentu mengamalkan ilmunya, belum tentu kompeten di bidangnya. Kalau ditarik untuk mengukur integritas, menghargai tidak dengan agama, bagaimana sikap atas umat beragama, tentu masih masuk akal.

“Tetapi jangan soal bisa atau tidak membaca Alquran, dong,” timpalnya.

Senada itu, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) PBNU Dr. Rumadi Ahmad bahkan secara terang-terangan menilai uji baca Alquran ini sebagai politisasi agama.

“Ini berlebihan. Tidak perlu urusan bisa baca Alquran atau tidak menjadi isu dalam pemilihan presiden. Hal ini bertendensi politisasi agama. Sayangnya, hampir semua pendukung dua pasangan capres menggunakan isu agama sebagai alat kampanye,” kata Rumadi kepada VOA.

Marsyuddin Ishak mengaku secara terang-terangan uji baca AlQuran itu untuk menyaring politik identitas dan menampakkan citra kedua pemimpin Muslim tersebut.

“Karena selama ini di Indonesia menjelang pilpres, diakui atau tidak, politik identitas itu telah dipraktikkan, makanya kami dari Aceh ingin mengingatkan,” katanya. (Eko

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here