ODHA Khawatir dengan Kelangkaan Obat ARV HIV/AIDS

pita merah dibagikan kepada pengguna jalan saat peringatan Hari AIDS Sedunia , Sabtu (1/12/2018). Foto: Antara

Oleh: Suandri Ansah

Sampai saat ini belum ada obat alternatif bagi penanganan ODHA, karena harapan bagi kesehatan ODHA hanya ARV

Indonesiainside.id, Jakarta — Penderita HIV AIDS di Indonesia terancam tidak bisa mendapatkan obat Antiretroviral Fixed Dose Combination jenis Tenofovir, Lamivudin, Efavirens (ARV FDC TLE) untuk terapi pengobatan.

Indonesia AIDS Coalition (IAC) memaparkan bahwa stok obat ARV TLE diperkirakan habis pada Maret 2019 setelah pemerintah gagal melakukan pengadaan kembali obat tersebut pada tahun 2018.

Keadaan ini membuat Orang dengan HIV/AIDS khawatir dan kebingungan. Wajar saja, karena Antiretroviral saat ini masih menjadi satu-satunya obat yang bisa menekan penyebaran virus dan memperpanjang harapan hidup.

“Banyak dari teman-teman ODHA yang sudah diberi ARV pecahan dan kebingungan (dengan kabar stok obat akan habis),” ujar Nuraini relawan Komunitas ODHA Berhak Sehat (OBS) kepada Indonesiainside.id, Jumat (11/1).

Menurut dia, pemerintah harus menggandeng perusahan lain selain PT Kimia Farma untuk pengadaan ARV. “Harus ada perusahaan lain yang diikutkan, jangan hanya PT Kimia Farma,” kata Nuraini.

Kimia Farma merupakan satu-satunya distributor obat ARV di Indonesia, sejak 2004, hingga masuknya PT Indofarma Global Medika di pasaran serupa mulai Juli 2018 lalu. Kimia Farma mengambil obat ini dari sebuah perusahaan farmasi India.

Selain itu, OBS juga khawatir dengan tingginya harga ARV yang beredar di pasar dalam negeri ketimbang di pasar internasional. ARV TLE dijual seharga Rp404.350 oleh Kimia Farma kepada pemerintah. Sementara di pasar internasional harganya hanya USD8 atau sekitar Rp112.000.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here