Mbak Tutut Serukan Kader Berkarya Tak Saling Hujat, Pengamat: Ini Sangat Positif

Oleh: Ahmad Z.R

Tradisi saling hujat lebih baik ditinggalkan. Narasi positif untuk pembangunan bangsa menuju Indonesia adil dan makmur penting dilakukan.

Indonesiainside.id, Jakarta — Ujaran kebencian dan fitnah marak terjadi di tahun-tahun politik. Hal itu ditujukan untuk menyerang rivalitas dan meningkatkan elektabilitas. Padahal, fatsun politik (adab, tata krama dan tanggung jawab) sangat penting sebagai teladan untuk generasi muda.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio memberikan apresiasi positif atas ajakan Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut untuk tidak melakukan ujaran kebencian, terlebih terhadap orang yang sudah meninggal dan banyak memberikan kontribusi untuk pembangunan bangsa.

“(Seruan itu sangat) positif. Ini perlu diperluas dan diperkuat. Termasuk Pak Jokowi mengajak untuk tidak membenci SBY, misalnya. SBY juga mengajak untuk menghormati Jokowi. Jokowi mengajak untuk tidak membenci Prabowo. Prabowo meminta untuk tidak membenci Jokowi. Ini bagus sekali dilakukan para tokoh politik,” ujar Hendri kepada Indonesiainside.id, saat dihubungi, Sabtu (12/1).

Sementara, Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso mengaku tersanjung dengan pidato Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang meminta kadernya untuk tidak menghujat Presiden kedua RI Soeharto.

Tak hanya Priyo, Mbak Tutut juga tersanjung atas pidato itu. Kata Priyo, Tutut pun sempat menitipkan pesan untuk kader Partai Berkarya.

“Dia (Tutut) mengatakan, Pak Sekjen pesan saya, kalau masih boleh beritahu seluruh teman-teman Partai Berkarya untuk jangan sedikitpun mencela Bung Karno dan keluarga,” kata Priyo di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1).

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here