Terharu Saat Pidato, Ulama Uighur: Sudah 70 Tahun Kami Ditindas

Oleh : Bagus Aryo Wicaksono

Penindasan terhadap muslim etnis Uighur sudah berlangsung puluhan tahun. Selama itu pula mereka dipaksa melepas keyakinan sebagai muslim, dikriminalisasi, dan dipaksa hidup di kamp-kamp konsentrasi.

Indonesiainside.id, Yogyakarta — Selama 70 tahun umat Islam dari etnis Uighur mengalami penindasan. Mereka tak hanya dipisahkan dari keluarga, dari ayah, ibu, dan anak, tapi juga dipaksa melepas akidah yang telah tertanam kokoh di dada. Selama itu pula mereka bertahan, walau kadang fisik tak kuat lagi menahan sakit.

Penuturan tersebut disampaikan penuh haru oleh anggota Persatuan Ulama Turkistan Timur Abdussalam Alim saat menghadiri Tabligh Akbar Bela Muslim Uighur di Masjid Jogokaryan, Yogyakarta, Minggu ( 13/1/2019).

Ulama Uighur ini tak kuat menahan sedih mengingat sakitnya penyiksaan namun tak ada negara muslim yang membela. Malah negara nonmuslim yang mengangkat persoalan mereka ke tingkat Internasional.

Barulah sekarang ini mereka sedikit lega. Umat Islam sedunia, termasuk dari Indonesia, mulai menyorot dan memperjuangkan nasib mereka.

“Hari ini menjadi harapan bagi kami setelah lebih dari 70 tahun ditindas oleh Republik Komunis China di Turkistan Timur,” kata Abdussalam.

Walau terkendala bahasa, ia menangkap ada kepedulian tinggi dan pembelaan terhadap mereka dari sorot mata ribuan jamaah yang hadir. “Hari ini saya sangat bersyukur, karena melalui sorot mata saudara semua yang hadir kami merasakan kepedulian dan keseriusan kalian semua yang hadir,” katanya.

Lebih lanjut Abdussalam memaparkan apa yang terjadi di Turkistan Timur atau Xinjiang, bukan hanya diskriminasi agama namun upaya penghapusan kepercayaan, identitas hingga semua yang berkaitan dengan Islam. “Saudara-saudara perempuan kami pun dipaksa menikah dengan pria non muslim,” katanya.

Jika ada pria nonmuslim datang dan melamar, saat keluarga wanita menolak maka pria itu berhak melaporkan keluarga wanita muslim ke polisi. Keluarga yang menolak langsung dibawa ke kamp konsentrasi.

Abdussalam mengatakan keluarganya termasuk ibunya sudah berada di kamp konsetrasi lebih dari 9 tahun dan dia kehilangan kontak lebih dari 1 tahun. “Ada juga kebijakan pemerintah menempatkan kader partai komunis di rumah-rumah warga muslim Uighur,” katanya.

Kepada dunia internasional, China mengatakan itu adalah upaya pemersatuan. Namun faktanya adalah upaya penanaman doktrin komunis. (Azh/INI-Network)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here