KPAI Nilai Ide Penghapusan Pelajaran Agama Tak Bisa Diterapkan

KPAI
Komisioner KPAI, Bidang Pendidikan, Retno Listyarti. Foto : Istimewa

Oleh: Suandri Ansah

Indonesiainside.id, Jakarta — Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti menilai ide penghapusan pelajaran agama merupakan ide sensitif dan rawan polemik. Menurutnya, penghapusan pendidikan agama tak perlu dilakukan.

“Pemerintah yang melakukan pun akan dihajar habis habisan juga. Itu tidak mungkin juga dilakukan oleh pemerintahan sekarang,” ujarnya kepada Indonesiainside.id, di Kantor KPAI, Jakarta Pusat, Jumat (5/7).

Menurut Retno, pendidikan agama setali dengan pendidikan budi pekerti. Adapun jika menguatkan pendidikan budi pekerti menggantikan pendidikan agama, menurut Retno, toh materi tersebut juga sudah diajarkan.

“Berkali kali menteri juga bilang tidak ada yang akan menghilangkan pendidikan agama. (Ide menghilangkan pelajaran agama) enggak perlu lah saya kira,” imbuhnya.

Menurut Retno, masalah utamanya adalah kekritisan pendidikan dalam menyerap dan menyikapi informasi. Ketika anak-anak lebih percaya hoax, misalnya, berarti cara pendidik atau guru dalam mengajar masih salah.

“Berarti literasi kurang, level kekritisan enggak ada. Berarti apa, gurunya tidak kritis. Berarti gurunya harus dibenahi,” tutur Retno.

Sebelumnya, JPNN memberitakan, praktisi pendidikan Setyono Djuandi Darmono mengatakan bahwa pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah. Dia memandang pendidikan agama rantan disalahartikan peserta didik sehingga menimbulkan perpecahan.

“Mengapa agama sering menjadi alat politik? Karena agama dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Di sekolah, siswa dibedakan ketika menerima mata pelajaran (mapel) agama. Akhirnya mereka merasa kalau mereka itu berbeda,” kata Darmono usai bedah bukunya yang ke-6 berjudul Bringing Civilizations Together di Jakarta, Kamis (4/7) dikutip Jumat (5/7).

Menurutnya, agama cukup diajarkan orangtua masing-masing atau lewat guru agama di luar sekolah. Sebagai gantinya, mapel budi pekerti yang diperkuat. Dengan demikian sikap toleransi siswa lebih menonjol dan rasa kebinekaan makin kuat. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here