ICMI: Habibie Tokoh Kebanggan Dunia Islam

bj_habibie.jpg
Presiden RI ke-3, BJ Habibie. Foto: Antara

Oleh: Suandri Ansah

Indonesiainside.id, JakartaIkatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menjadi salah satu pihak yang paling berduka atas wafatnya BJ Habibie. Tentu saja, sebab almarhum adalah salah satu penggagas sekaligus ketua umum ICMI pertama.

Ketua Umum ICMI, Jimly Asshiddiqie mengatakan, Habibie bukan hanya tokoh bangsa, Presiden Ketiga RI itu juga merupakan tokoh dunia Islam Internasional pada umumnya. Jilmy turut menyaksikan bagaimana Habibie dielu-elukan di dunia Islam global.

“Satu hari di Turki ketika Erdogan menjabat Ketua KNPI-nya Turki, ketika PM nya Erbakan, pak Habibie diundang ceramah di stadion bola. Sepanjang jalan menuju lapangan bola ‘Habibie hidup…Habibie hidup..,” tuturnya, Rabu (11/9) malam.

Jimly menjelaskan mengapa Habibie begitu favorit di mata mereka. Hal itu karena Habibie berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang saat itu belum dimintai masyarakat Islam.

“Maka ketika ada seorang muslim bisa bikin pesawat terbang, profesor, doktor bisa kuasai industri pesawat terbang di Jerman, itu jadi kebanggan umat Islam,” tuturnya.

“Kita kehilangan, dunia Islam juga kehilangan. Saya rasa dunia pada umumnya juga merasa kehilangan. Mudah mudahan husnul khatimah. Pergi sesudah azan maghrib, semoga pertanda beliau pergi husnul khatimah, ditempatkan sebaik baiknya,” imbuh mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Mengutip laman resmi ICMI, program dan kebijakan Orde Baru secara langsung maupun tidak langsung telah melahirkan generasi baru kaum santri yang terpelajar, modern, berwawasan kosmopolitan, berbudaya kelas menengah, serta mendapat tempat pada institusi-institusi modern.

Pada akhirnya kaum santri dapat masuk ke jajaran birokrasi pemerintahan yang mulanya didominasi oleh ‘kaum abangan’ dan di beberapa tempat oleh non muslim. Posisi demikian jelas berpengaruh terhadap produk-produk kebijakan pemerintah.

Dengan kondisi yang membaik ini, maka pada dasa warsa 80-an mitos bahwa umat Islam Indonesia merupakan “mayoritas tetapi secara teknikal minoritas” runtuh dengan sendirinya.

Sementara itu, pendidikan berbangsa dan bernegara yang diterima kaum santri di luar dan di dalam kampus telah mematangkan mereka buka saja secara mental, tapi juga secara intelektual.

Dari mereka itulah lahir critical mass yang responsif terhadap dinamika dan proses pembangunan yang sedang dijalankan dan juga telah memperkuat tradisi inteletual melalui pergumulan ide dan gagasan yang diekpresikan baik melalui forum seminar maupun tulisan di media cetak dan buku-buku.

Seiring dengan itu juga terjadi perkembangan dan perubahan iklim politik yang makin kondusif bagi tumbuhnya saling pengertian antara umat Islam dengan komponen bangsa lainnya, termasuk yang berada di dalam birokrasi.

ICMI dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang tanggal 6-8 Desember 1990. Di pertemuan itu juga dipilih Baharuddin Jusuf Habibie sebagai ketua ICMI yang pertama. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here