SD Inpres, Dulu dan Kini (Bagian II)

sd-inpres
Suasana belajar di SD Inpres 2 Ombe Baru. Foto: M Sahrul Hardinata

Indonesiainside.id, Jakarta — Di era semaraknya SD Inpres, dari tahun 1975 sampai tahun 1993, jumlah SD Inpres mencapai 150 ribu gedung di seluruh Indonesia. Lalu, seiring dengan kemajuan dan kebijakan di bidang pendidikan, jumlahnya terus menurun. Angka penurunan ini karena berbagai sebab. Di antaranya jumlah penduduk sekitar menurun, karena itu anak-anak usia SD bisa ditampung oleh SD Negeri setempat; SD Inpres satu dengan lainnya demerger; dijadikan SD Negeri; dan sebagainya.

Di kota-kota yang sudah mapan secara ekonomi, SD Inpres memang sudah tidak ada lagi. Di Jakarta, Surabaya, Bali, Palembang, SD Inpres sudah tidak ada, sudah di negerikan, dan bangunannya sudah direhab. Di seluruh Aceh, pasca tsunami 26 Desember 2014, janganan gedungnya, data tentang SD Inpres juga bak ditelan bumi. Tetapi, untuk beberpa daerah, masih berdiri kokoh. Di antaranya berikut ini.

Menurut pantauan Akbar Nur Qodri dari Indonesiainside.id, di kota Makassar masih ada SD Inpres Jalan Daeng Ngirate, Kecamatan Rappocini, Makassar. Ada tiga SD Inpres yang berada dalam satu kompleks, yakni SD Inpres Perumnas I, SD Inpres Perumnas II dan SD Inpres Perumnas III. Kepala Sekolah Dasar Inpres Perumnas I Jaegunggu, mengatakan, walaupun pihaknya mengalami kekurangan tenaga pendidik tetapi mereka masih bisa menerapkan kurikulum 2013 (k-13).

“Metode pembelajaran yang kami gunakan itu K-13 dan sebelum kurikulum ini digunakan,  guru mengikuti pelatihan bersama guru negeri lainnya,” katanya kepada Indonesiainside.  Jaegunggu menambahkan, dari tahun ke tahun sekolahnya terus melakukan pembenahan mulai dari pembangunan gedung hingga pembentukan karakter siswa siswi.  “Saat ini, kami mendapat bantuan dari DAK (Dana Alokasi Khusus) pemerintah pusat pembangunan tiga ruang kelas, kelas satu, dua dan tiga. Untuk pembentukan karakter, kami memberikan pembelajaran melalui pengelolaan sampah bekas plastik,”  katanya.

Adapun pengelola SD Inpres  Perumnas 1 Rappocini hanya berjumlah 10 orang yang terdiri dari Kepsek, enam guru kelas, dua guru bidang studi, dan satu admin. Ahamdulillah pembelajaran berjalan lancar,” ujarnya.

Jika dirunut dari tahun ke tahun, kata Jaegunggu, SD Inpres Perumnas I mengalami penurunan jumlah siswa. Sebelumnya, dalam satu kelas siswa berjumlah 36 sampai 40 orang. Tapi berdasarkan instruksi dari atasannya di tahun 2018/2019 siswa dibatasi dan hanya bisa mengisi 28 sampai 30 orang dalam satu kelas. “Tahun sebelumnya, siswa yang mengikuti pembelajaran mencapai 250 sampai 280 orang. Tapi kini kami diimbau hanya bisa menerima siswa 28 orang dalam satu kelas,” paparya.

Menurut Jaegunggu,  selama ini, Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) cair ke sekolah berdasarkan jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran.  Jika jumlahnya sedikit, ya bantuannya juga sedikit. Tetapi Jaegunggu tak mau merinci dana BOS yang diterima sekolahnya dari tahun ke tahun. Alasannya, ia bisa mendapat teguran dari atasannya.

Jaegunggu juga mengeluhkan, bahwa di sini, belum ada perpustakaannya. Ruang baca siswa pun juga tak ada.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, SD Inpres masih bertebaran. Salah satunya adalah SD Inpres 2 Ombe Baru, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB.

Menurut Kepala SDN Inpres 2 Ombe Baru, H. Rahmat, SD Inpres 2 Ombe Baru dari sejak dibangun tahun 1979 lalu hingga hari ini baru dua kali mendapatkan bantuan rehab dari pemerintah. “Itu terjadi pada tahun 2012 dan 2018,” tutur Rahmat kepada M Sahrul Hardinata dari Indonesiainside.id.

Bantuan rehab di tahun 2012 hanya meliputi lantai, sedangkan di tahun 2018 rehab plafon dan atap. “Sampai hari ini kami juga masih kekurangan dua kelas. Untuk mensiasatinya, aula sekolah disekat jadi dua ruang kelas,” jelas Rahmat.

Jumlah tenaga pengajar di SD Inpres 3 Ombe Baru sebanyak 24 orang, terdiri dari guru PNS 11 orang dan guru honorer, termasuk penjaga sekolah dan penjaga malam, sebanyak 13 orang.

Ketika Pulau Lombok ditimpa gempa bumi pada Juli 2018,  SDN Inpres 2 Ombe baru mengalami keretakan cukup parah. Terutama di sejumlah sudut bangunan. “Kami sudah sering sampaikan kerusakan akibat gempa bumi ke Dinas pendidikan Lombok Barat. Namun jawabannya selalu diminta menunggu,” papar Rahmat sambil matanya menatap jauh nun di sana.

Meski serba kekurangan, termasuk perpustakaan yang belum memadai, Rahmat masih bisa berbangga hati. Pasalnya, dari SD Inpres ini terlahir sosok-sosok yang cukup dibanggakan. Haji Umar Said, Ketua DPRD NTB masa bhakti 2014-2018, anggota Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Usman, dan TGB Basyirun seorang penceramah agama, adalah lulusan dari SD Inpres 2 Ombe Baru, ini. (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here