Klinik Praktik Tanpa Izin Raup Keuntungan Miliaran Rupiah

Penyidik Sub Direkotrat Keamanan Negara (Kamneg) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya menyegel Hubsch Clinic, yang beralamat di Ruko Bellepoint, Jl Kemang Selatan VIII, Jakarta Selatan lantaran menjalankan praktik suntik Stem Cell atau Sel Punca secara ilegal. Foto: ANTARA

Indonesiainside.id, Jakarta – Klinik penyedia layanan terapi stem cell atau sel punca tanpa izin di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, telah meraup keuntungan hingga miliaran rupiah. Hal tersebut merupakan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak penyidik dari Polda Metro Jaya.

“Total keuntungannya sekitar Rp10 miliar sementara,” ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Nana Sudjana, di Polda Metro Jaya, Kamis (16/1). Klinik tersebut menjual serum sel punca kepada korbannya dengan harga yang berbeda-beda.

Pihak kepolisian yang mendapatkan laporan adanya praktik ilegal itu kemudian bergerak dan langsung mendatangi klinik yang beralamat di Ruko Bellepoint, Jalan Kemang Selatan VIII, Jakarta Selatan, Sabtu (11/1) lalu. Berdasarkan keterangan dari para tersangka, harga serum itu bergantung pada jumlah sel yang terkandung di dalam serumnya yang dipesan korban. Pengganti

“Itu ada harga per ampul itu tergantung dari jumlah selnya. Kalau selnya 100 itu harganya Rp100 juta, kalau 150 itu Rp150 juta, kalau 200 itu Rp200 juta,” paparnya.

Tiga orang yang kini ditetapkan sebagai tersangka, yakni YW (46 tahun) selaku manajer klinik, LJ (47 tahun) selaku manajer pemasaran dan dr OH selaku dokter umum sekaligus pemilik klinik yang bertugas melakukan tindakan suntik kepada pasien telah diamankan oleh prenyidik dari Polda Metro Jaya.

Dalam operasi tangkap tangan itu, petugas menyita sejumlah barang bukti seperti stem cell produk K asal Jepang yang tidak berizin, selang infus, alat suntik, alat antiseptik dan registrasi pasien. Kemudian, para tersangka sudah berhasil menyuntikkan serum itu ke puluhan korbannya.

Nana menuturkan bahwa puluhan korban itu rencananya akan diperiksa oleh polisi. Akibat perbuatannya, ketiga tersangka ini terancam hukuman penjara maksimal selama 15 tahun.

Selain itu, pihak kepolisian bakal terus mengawasi dan mendalami dampak terapi stem cell  kepada para korbannya. Kemudian, pihak kepolisian juga akan memeriksa apakah serum stem cell yang digunakan oleh klinik tersebut adalah memang benar serum stem cell.

“Ini kasus baru beberapa hari kita ungkap, masih pendalaman, termasuk ampul stem cell maupun kandungannya sendiri masih kita periksa apakah asli,” tuturnya. Penyidik dari pihak kepolisian kemungkinan bakal memanggil beberapa korbannya untuk dimintai kesaksian.

Klinik tersebut sudah beroperasi selama satu tahun, yakni dari bulan Januari 2019 hingga Januari 2020. Adapun jumlah korban praktik ilegal klinik tersebut mencapai 56 orang.

“Dalam penyelidikan mungkin beberapa orang akan kita panggil sebagai saksi. Masyarakat yang pernah menggunakannya,” ujarnya.

Praktik suntik serum ini diduga telah melanggar Pasal 204 ayat (1) KUHP dan atau Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 75 ayat (1), Pasal 76 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan atau Pasal 201 jo Pasal 198 jo Pasal 108 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan atau Pasal 8 ayat (1) huruf a UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen jo Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. (PS)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here