DPR Sebut Nadiem Makarim Sukses Buat Terobosan Baru

Dede Yusuf
Anggota Komisi X yang membidangi pendidikan, Dede Yusuf. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Anggota Komisi X yang membidangi pendidikan, Dede Yusuf, mengapresiasi 100 hari kerja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim. Ia menyebut eks bos Gojek itu sukses membuat terobosan baru pendidikan nasional.

“Yang dilakukan Nadiem Makarim dengan gagasan Merdeka Belajar itu membuat terobosan,” kata Dede di Jakarta, Ahad (26/1).

Politikus Partai Demokrat itu menyebut gagasan Nadiem tersebut sesuai dengan perkembangan zaman. Program serupa, kata Dede, juga bisa ditemukan di berbagai negara dunia.

“Seperti contohnya mengubah UN. Kami di Komisi X DPR amat mendukung keputusan Nadiem Makarim itu,” ucap Dede.

Kendati demikian, Dede menyebut Komisi X DPR tetap akan meminta penjelasan kepada Nadiem terkait kebijakan Merdeka Belajar. Ini agar masyarakat bisa mengetahui secara jelas tujuan dari kebijakan tersebut.

Sementara, Rektor Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, menilai program Merdeka Belajar merupakan sistem yang paling ditunggu. “Program (Merdeka Belajar) membuat kampus maupun lembaga pendidikan bisa melakukan inovasi,” tutur dia.

Sementara itu, Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar, mengaku memberikan apresiasi terhadap program Merdeka Belajar yang digagas Nadiem. Hanya saja, Musni khawatir mayoritas perguruan tinggi swasta (PTS) akan bubar dengan adanya program itu.

Sosiolog itu membeberkan 5 alasan program tersebut bisa mengubur ribuan PTS. Pertama, PTS kecil dan menengah harus bersaing bebas dengan perguruan tinggi negeri (PTN) beranggaran besar dan PTS milik konglomerat.

Kedua, ribuan PTS kecil dan menengah akan semakin sulit memperoleh mahasiswa dengan jumlah yang diharapkan. “Padahal, sumber pembiayaan mereka hanya dari uang kuliah mahasiswa,” tutur Musni Umar.

Ketiga, akan terjadi konglomerasi perguruan tinggi oleh PTN dan PTS yang didirikan para konglomerat. Keempat, PTS kecil dan menengah akan semakin terpinggirkan. Hal itu karena adanya kebijakan PTN dan PTS akrditas A dan B bebas mendirikan program studi dan menghimpun mahasiswa baru tanpa batas.

Kelima, kebijakan Nadiem Makarim akan mengakibatkan ribuan PTS bubar karena tidak mampu bersaing bebas.

“Kelima hal yang dikemukakan di atas tidak akan dialami PTS kecil dan menengah kalau ada kebijakan afirmasi dari pemerintah dalam bidang akademik,” ucap Musni Umar. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here