Imam Nahrawi Sudah Diincar Penyidik sejak Sebelum Revisi UU KPK

KPK Tahan Asisten Pribadi Menpora Imam Nahrawi
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi (kanan) bersama Asisten Pribadi (Aspri) Menpora Miftahul Ulum (kiri) menjadi saksi dalam sidang suap dana hibah dari pemerintah untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (4/7). Foto: Antara

Oleh: Rudi Hasan

Indonesiainside.id, Jakarta – Penetapan status tersangka korupsi terhadap Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, tidak dilakukan tiba-tiba. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mendalami perkara suap dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang menjerat Nahrawi itu sejak lama.

“Penyidikan (dengan tersangka Nahrawi) mulai dilakukan sejak 28 Agustus 2019. Ada sejumlah kegiatan yang dilakukan penyidik selama waktu tersebut, termasuk pemeriksaan dan penahanan MIU (Miftahul Ulum, asisten pribadi Nahrawi),” ujar Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di Jakarta, Rabu (18/9).

Menurut dia, tak ada kaitannya antara penetapan tersangka Nahrawi dengan perubahan UU KPK baru-baru ini. Febri menyebut, sebelum revisi UU itu diketok, memang pihaknya telah menyasar Nahrawi.

Anak buah Muhaimin Iskandar alias Cak Imin di PKB itu memang sudah menjadi calon tersangka sejak lama. Akan tetapi, penetapan statusnya secara resmi baru bisa dilakukan sekarang.

“Penyidikan ini kami lakukan sebelum revisi UU KPK diketok di paripurna DPR. Karena memang hasil penyelidikan sudah menyimpulkan bukti permulaan yang cukup telah terpenuhi,” ujar Febri.

KPK hari ini resmi menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, sebagai tersangka kasus suap. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Jakarta, Rabu (18/9).

Nahrawi dan asisten pribadinya, Miftahul Ulum, menjadi tersangka dalam pengembangan kasus suap dana hibah dari pemerintah untuk KONI. (AIJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here