Ada Berbagai Modus Penyelundupan Narkoba di Lapas, Petugas Kesulitan

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Oleh: Ahmad ZR

Indonesiainside.id, Jakarta – Bukan penjahat namanya, jika tidak memiliki seribu akal dalam memuluskan aksinya. Seperti yang terjadi dalam Lapas Cipinang, banyak cara para tahanan narkotika dengan menggunakan berbagai alat dan sarana.

“Mereka itu lebih pintar, kalau hari ini kita razia satu HP (handphone), besok ada seribu HP datang. Penyelundupan kan banyak cara, bisa dilempar dari atas pakai drone ke lapangan (olahraga) misalnya,” kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang, Hendra Eka Putra usai diskusi KontraS di bilangan Cikini, Jakarta, Kamis (10/10).

Modus lain, seperti narkotika, para tahanan dapat memasukan ke dalam bungkus mi instan. Sementara, alat pemeriksa dalam lapas tidak secanggih alat di kantor Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Kita kan tidak mungkin membongkar (mi instan), nanti mereka protes dan dianggap melanggar HAM (hak asasi manusia). Di gula (putih) masukan HP satu kilogram saja tidak ketahuan,” katanya.

“Atau lempar bola tenis (berisi narkotika), belum di kacang garuda di masukkan sabu-sabu, di softex, dan di sepatu. Di BNN kan mereka punya alat, kita tidak punya,” imbuhnya.

Ia menyatakan, alat pendeteksi narkotika dan barang-barang sejenisnya sangat diperlukan di Lapas. Ini untuk menghalangi oknum yang memanfaatkan tugasnya untuk menyelundupkan barang haram tersebut.

“Kadang ada yang minta duit ke keluarganya untuk makan, padahal tidak dibelikan. Termasuk peredaran narkoba, tidak menutup kemungkinan ada pegawai-pegawai saya yang bermain. Nah, Undang-undang Pemasyarakatan yang sempat tertunda perlu untuk segera dibahas,” katanya.

Tak hanya itu, Hendra mengakui selama ini pihak Lapas kewalahan akibat penghuni Lapas yang melebihi kapasitas. Dari 4.184 tahanan, hanya ada 40 petugas yang jaga dengan penjagaan satu blok mencapai 80 hingga 100 orang.

“Ini kendalanya, anggaran kurang, SDM kurang, dana kesehatan 90 juta per tahun, hutang makanan saja sudah mencapai Rp2 miliyar,” katanya.

Ia menyebutkan, rinciannya untuk satu orang tahanan, negara menganggarkan Rp18 ribu. Dana tersebut belum dipotong PPN hingga tersisa Rp15 ribu untuk satu hari dengan tiga kali jadwal makan.

“Bayangkan seperti itu, tapi kita berusaha agar tetap layak 4 sehat 5 sempurna,” ujarnya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here