Narapidana Anak dan Dewasa Diusulkan Bebas, Ini Jumlahnya

Ilustrasi lapas.

Indonesiainside.id, Jakarta – Narapidana anak dan dewasa diusulkan dibebaskan dengan beberapa ketentuan. Langkah ini dilakukan mengingat kapasitas sel tidak memungkinkan untuk menjaga jarak imbas wabah virus corona (Covid-19).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, Nugroho, menjelaskan, berdasarkan Sistem Database Pemasyarakatan tanggal 29 Maret 2020, narapidana atau anak yang diusulkan asimilasi dan hak integrasi terbanyak berasal dari provinsi Sumatera Utara sebanyak 4.730 orang. Kemudian disusul provinsi Jawa Timur sebanyak 4.347 orang, serta provinsi Jawa Barat dengan jumlah 4.014 orang.

“Dalam kepmen tersebut dijelaskan hal yang menjadi pertimbangan dalam pembebasan adalah tingginya tingkat hunian di lembaga permasyarakatan, lembaga pembinaan khusus anak dan rumah tahanan. Sehingga rentan penyebaran virus corona,” kata Nugroho dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (1/4).

Ia menjelaskan, langkah ini diambil sebagai upaya penyelamatan terhadap Narapidana/Anak di lapas/rutan/LPKA sebagai institusi yang memiliki tingkat hunian tinggi serta rentan terhadap penyebaran dan penularan Covid-19.

30.000 Narapidana Bebas

Sementara, hari ini, Kemenkumham membebaskan 30.000 narapidana dewasa hingga anak untuk mencegah penyebaran Covid-19. Narapidana tersebut akan dibebaskan melalui asimilasi dan hak integrasi.

“Sebanyak 30.000 lebih Narapidana/Anak yang tengah menjalani pidana di lapas/rutan/LPKA seluruh Indonesia akan menghirup udara bebas lebih cepat terkait pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid yang tengah mewabah di Indonesia pada khususnya dan seluruh dunia pada umumnya,” ujar Nugroho.

Puluhan ribu napi tersebut akan diusulkan asimilasi di rumah serta mendapat hak integrasi berupa pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas, dan cuti bersyarat, khususnya bagi yang telah menjalani 2/3 pidana yang akan jatuh pada 1 April 2020 hingga 31 Desember 2020. Kebijakan tersebut tidak berlaku bagi napi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2019 dan bukan warga negara asing.

Pengeluaran dan pembebasan tersebut didasarkan pada peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 10 Tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi bagi Narapidana dan Anak dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19. Serta Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No.M.HH-19 PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak melalui Asimilasi dan Integrasi dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19.

Hal tersebut juga tertuang dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan No: PAS-497.PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang hal yang sama.

“Dan mulai hari ini Kepala Lapas, Rutan dan LPKA dapat melaksanakan pengeluaran dan pembebasan Narapidana dan Anak, Bapas melakukan bimbingan dan pengawasan, dengan arahan, pembinaan dan pengawasan Kepala Divisi Pemasyarakatan, sesuai dengan dasar peraturan yang telah diterbitkan,” ujar Nugroho. (SD)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here