“Botol Kosong” dalam Kasus Novel Baswedan Jadi Masalah Baru

Penyidik KPK Novel Baswedan (kiri) menyapa awak media usai rekonstruksi kasus penyiraman air keras terhadap dirinya di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (7/2/2020). Novel Baswedan tidak mengikuti proses rekonstruksi karena alasan kesehatan mata kirinya. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/ama.

Indonesiainside.id, Jakarta – Proses peradilan terkait kasus penyiraman dengan air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan sedang berproses. Namun, ada saja kemelut yang menjadi benang kusut dalam kasus yang terus menyedot perhatian publik di Tanah Air itu.

Terbaru, Tim Advokasi Novel Baswedan menuduh mantan Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya Irjen Rudy Heriyanto atas penghilangan barang bukti dalam kasus tersebut. Dugaan penghilangan barang bukti itu terkesan sengaja untuk menutupi fakta sebenarnya.

Ada empat hal yang menjadi landasan laporan tersebut. Pertama, sidik jari pelaku di botol dan gelas yang digunakan sebagai alat penyerangan hilang. Pada tanggal 17 April 2019 lalu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, tim penyidik tidak menemukan sidik jari dari gelas yang digunakan oleh pelaku untuk menyiram wajah Novel Baswedan.

Namun, mantan anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel bentukan Polri, Indriyanto Seno Adji, meminta Tim Advokasi Novel tidak sembarang menuduh.

“Penyebutan dan tuduhan secara tegas terhadap nama dan perbuatan Irjen (Pol) Rudy Heriyanto bahkan menjadi viral melalui sarana online secara luas justru bersifat actual malice dan menimbulkan dugaan pencemaran nama baik yang dapat dituntut pidana berdasarkan UU ITE,” kata Indriyanto Seno Adji dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (8/7).

Dia meragukan objektivitas laporan Tim Advokasi Novel Baswedan ke Propam karena perkara masih berlangsung di pengadilan. Indriyanto berpendapat laporan tim advokasi secara substansial tidak benar. Misalnya, tudingan tentang botol kosong.

TGPF, kata Indriyanto, menemukan botol itu bukan barang bukti, tetapi digunakan untuk menampung air yang ditemukan di lantai. Selain itu, terkait sidik jari, Indriyanto menuturkan TGPF melakukan penelitian secara detail dan memang sidik jari tidak ditemukan di gelas.

“Dipastikan pelaku menggunakan sarung tangan, dan lagi pula adalah sangat ceroboh sekali apabila pelaku bawa air asam sufat namun tidak menggunakan sarung tangan,” kata Indriyanto.

Untuk itu, Indriyanto menyarankan agar semua pihak bersikap bijak sambil menunggu proses judisial yang masih berlangsung di pengadilan. Dia pun mengingatkan semua pihak tidak membuat laporan yang bersifat menuduh nama tertentu.

Sebelumnya, Tim Advokasi Novel Baswedan melaporkan Irjen Rudy Heriyanto ke Divisi Propam Polri karena diduga melanggar etik dengan menghilangkan barang bukti kasus penyiraman air keras. Anggota Tim Advokasi Novel Baswedan, Kurnia Ramadhana, menyebut botol dan gelas yang digunakan pelaku tidak dijadikan barang bukti dalam proses penanganan perkara tersebut. Polisi diduga menyembunyikan sejumlah fakta.

“Pada hari ini tim advokasi Novel Baswedan melaporkan Irjen Pol. Rudy Heriyanto selaku mantan Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya ke Divisi Propam Polri atas dugaan pelanggaran kode etik profesi karena menghilangkan barang bukti dalam perkara penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan,” kata anggota tim advokasi Kurnia Ramadhana di Jakarta, Selasa (7/7).

Irjen Pol Rudy Heriyanto sebelum menjabat sebagai Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri merupakan bagian dari tim penyidik yang menangani perkara penyiraman air keras terhadap Novel. “Saat itu dia menduduki posisi sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya sehingga segala persoalan dalam penyidikan menjadi tanggung jawab dari yang bersangkutan,” kata Kurnia. (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here