347 Squad, Berawal dari Kulineran Lalu Berbagi di Jalanan

Ibu-ibu anggota 347 Squad berpose bersama Intan, anak punk dari Bandung usai makan-makan bersama, Jum'at (14/12). Foto: Suandri Ansah/Indonesiainside.id

Mereka menamakan kelompoknya 347 Squad On The Road, Pejuang Nasi Bungkus. Beranggotakan Sembilan ibu-ibu yang doyan kulineran.

Indonesiainside.id, Jakarta — Suatu sore yang sibuk di seputar kawasan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, sejumlah ibu-ibu berkerudung lebar terlihat asik bercengkrama dengan sejumlah anak jalanan. Mereka duduk melingkar beralas tikar di bawah kolong jembatan jalan layang. Berbincang dan makan-makan.

Bagi orang yang melintas, pemandangan itu akan terlihat kontras. Ibu-ibu berkerudung lebar ngobrol begitu santainya dengan anak jalanan sekitar yang berpenampilan urakan: mengenakan pakaian alternatif yang tidak dijual di mall-mall, bertato, gondrong dan tindikan.

Dian, salah satu ibu rumah tangga anggota itu bercerita kepada Indonesiainside.id tentang kegiatan mereka pada Jumat (14/12) sore itu. “Kami sedang bagi-bagi makanan, mas” kata Dian.

Dian dan sejumlah ibu-ibu lainnya merupakan pegiat sosial yang melakukan kegiatan berbagi setiap Jum’at tiba. Mereka membagi-bagikan makanan kepada sekelompok masyarakat yang dianggap memerlukan di antaranya dhuafa, anak yatim, anak jalanan.

Mereka menamakan kelompoknya 347 Squad On The Road, Pejuang Nasi Bungkus. Beranggotakan Sembilan orang. Mereka memulai kegiatannya pada akhir November lalu di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Mereka pun aktif mendokumentaiskan kegiatan mereka dan diungggah di laman video Youtube.

Dian mengatakan, meskipun idenya terlihat sederhana, bagi-bagi makanan ternyata menyajikan kepuasan tersendiri bagi mereka yang peduli. Ide tersebut bermula saat mereka berkumpul sebagai wali murid sebuah sekolah di kawasan Jakarta Pusat, yang sama-sama doyan jalan-jalan sambil kulineran.

Kemudian terbesit di antara obrolan kenapa tidak sekalian membuat kegiatan yang turut memberikan kebahagaiaan kepada orang-orang di luar lingkaran mereka. “Kenapa kita fokus pada nasi bungkus, karena kita ingin orang yang tidak mampu merasakan juga apa yang kita makan,” katanya.

Makanan yang dibagikan dibeli dari dana pribadi dan sumbangan para donatur. Pada setiap aktifitasnya, mereka selalu mengenakan seragam yang berbeda. Hari itu, mereka mengenakan kerudung abu abu dengan bawahan biru. Hari kemarin kerudung biru, hari lainnya berjilbab cokelat.

“Setiap minggu kami mengenakan kerudung dengan warna berbeda, menandakan tiap minggu kita jalan berbagi, dan menandakan minggu ke berapa,” tutur Dian. Aktifitas mereka juga mendapat dukungan dari para suami.

(Suandri Ansah)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here