BAZNAS Dorong Petani Tanam Padi Organik

Kabupaten Sukabumi dipilih sebagai model Lumbung Pangan BAZNAS karena merupakan salah satu lumbung padi Jawa Barat dan menempati urutan ke-3 setelah Indramayu dan Subang.

Indonesiainside.id, Sukabumi — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mendorong para petani untuk menanam padi secara organik. Sebagai perwujudan hal itu, BAZNAS juga telah mengembangkan Lumbung Pangan di Desa Cibatu, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.

Kepala Divisi Pendayagunaan BAZNAS, Randi Swandaru mengatakan, terdapat 30 orang kelompok petani di Desa Cibatu yang dilakukan pendampingan oleh BAZNAS mengenai penanaman dan pengolahan padi dengan cara organik. BAZNAS bekerja sama dengan Yayasan Indonesia Organik Center (IOC). Lahan yang dikelola seluas 10 hektare.

“BAZNAS mengembangkan Lumbung Pangan dengan mengedepankan proses ramah lingkungan. Konsep pertanian berkelanjutan yang disebut System of Rice Intensification (SRI) organik juga diterapkan. BAZNAS terlebih dahulu melakukan pelatihan-pelatihan kepada para petani bagaimana bertani organik. Sementara itu, untuk pendampingan lapangan dilakukan oleh Yayasan Indonesia Organik Center (IOC),” kata dia.

Ia menambahkan, selama ini, aktivitas para petani masih bersifat konvensional dengan memanfaatkan pupuk dan pestisida kimia untuk mempercepat pertumbuhan, namun sebenarnya dapat mempercepat kerusakan lahan. Pelatihan yang dilakukan berupa teknis budi daya, pembuatan pupuk organik, pembuatan pestisida nabati dan teknik bercocok tanam yang sesuai standar SRI Organik.

Dengan menerapkan pertanian organik, tentunya beras yang dihasilkan tanpa menggunakan pestisida atau bahan kimia dalam tumbuh kembang. Beras yang dihasilkan lebih sehat dan berkualitas.

Randi menjelaskan, rata-rata luasan garapan petani saat ini seluas 0,3-0,5 ha per petani dengan rata-rata hasil panen jika secara konvensional rata-rata 5 ton/ha GKP dengan harga sebesar Rp 4.500/ kg (GKP nonorganik). Namun jika menggunakan metode SRI Organik peningkatan hasil panen GKP sekitar 1-2 ton per ha menjadi 6-7 ton dan terus bertambah hingga musim tanam ke 3 dengan target hingga mencapai 9 ton per ha dan harga GKP meningkat menjadi Rp5.000/kg (GKP organik).

“Rata-rata pendapatan para petani dari jumlah keseluruhan sebelum dibantu BAZNAS sebesar Rp1.378.000, yang masih dibawah standar minimum daerah. Dengan pelaksanaan pertanian organik diharapkan pada musim tanam ke-3 peningkatan penghasilan rata-rata petani petani menjadi sebesar Rp 3.043.000, jika dibandingkan dengan UMK Kabupaten Sukabumi tahun 2019 yakni Rp 2.791.015,” kata dia.

BAZNAS juga melakukan pendampingan pada proses pemasaran hasil panen para petani, BAZNAS sudah bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi untuk pengadaan beras program Beras Sukabumiku di samping tetap memenuhi kebutuhan penyaluran BAZNAS melalui Layanan Aktif BAZNAS (LAB), ATM Beras, Kebencanaan, Zakat Fitrah atau program lainnya.

Selama program berjalan, BAZNAS akan melakukan pendampingan secara intensif selama minimal 2 tahun. Pendamping ditempatkan di lokasi program dan membaur serta tinggal di lokasi program. Pendamping akan menjadi motivator, fasilitator, dan mediator untuk mengembangkan masyarakat dalam hal teknis bertani, kelembagaan, organisasi, mental spiritual, dan pengembangan agribisnis.

“Dengan adanya pendampingan tersebut, ditargetkan bisa mewujudkan kemandirian, yakni pada aspek ekonomi, mental spiritual dan kelembagaan,” kata Randi.

(Ahmad Z.R)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here