Cerita Warga Saat Gelombang Menggulung

Eneng (kanan) bersama menantunya, Erva dan anak-anaknya di posko pengungsian Desa Kalanganyar, Labuan, Pandeglang. Foto: Suandri Ansah/Indonesiainside.id

Dentuman keras mulai terdengar sejak Maghrib. Suaranya seperti gemuruh kapal berlabuh

Indonesiainside.id, Banten – “Agil ga mau pulang.. ga mau pulang, di jalan banyak air..” ucap Eneng menirukan kata-kata Agil, cucunya yang sedang lelap di pengungsian.

Eneng, 65 tahun bersama menantunya, Erva dan kedua anaknya masih mengungsi di posko pengungsian Desa Kalanganyar, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.

Sebagian rumahnya yang berada di bibir Pantai Galau hancur dibelai gelombang setinggi 3 meter pada Sabtu malam (22/12). Hampir seluruh rumah yang berdiri di kawasan itu rata dengan tanah.

Menurut BNPB, pesisir Pandeglang merupakan kawasan dengan jumlah korban dan daerah terdampak paling parah. Tidak adanya peringatan dini menyebabkan banyak korban. Masyarakat tak memiliki kesempatan mengevakuasi diri.

Malam sebelum gelombang datang, Eneng bersama menantu dan cucunya sedang bercengkrama menghabiskan sisa hari. Sampai ketika sebuah gemuruh mengagetkan suasana.

Bagi masyarakat pesisir Banten, suara gemuruh adalah hal yang biasa. Tapi, khusus hari itu, gemuruh terdengar tak lazim. Dentuman keras mulai terdengar sejak Maghrib.

Satu jam setelah waktu Isya, dentuman terdengar lagi. Eneng dan Erva mengira ada kapal besar berlabuh. “Suaranya seperti gemuruh kapal turun.” Mereka pun keluar melihat lokasi berlabuhnya. Sebatas memenuhi rasa penasaran cucunya.

Sementara itu di tempat lain, pos pantau Badan Geologi merekam adanya gempa tremor terus menerus di kawasan Selat Sunda. Getaran terjadi akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here