Kesaksian Tahanan Uighur yang Alami Penyiksaan

Gulbakhar Cililova, mantan tahanan kamp konsentrasi Uighur. Foto: Suandri Ansah/Indonesiainside.id

Oleh: Suandri Ansah

Kegiatan sehari-hari Gulbakhar bersama tahanan lainnya hanyalah menonton program komunis Cina

Indonesiainside.id, Jakarta — Gulbakhar Cililova sudah empat kali dilarikan ke rumah sakit di wilayah kamp penahanan etnis Uighur di Xinjiang, Cina. Berat badannya menyusut 20 kilogram dari semula 76 kilogram. Ia depresi melihat segala bentuk penyiksaan yang dialami para tahanan.

Di rumah sakit tersebut, beban pikirannya bertambah saat menyaksikan seorang wanita di bawa oleh sipir penjara. Sipir berkata perempuan itu akan dibebaskan, tapi sebenarnya perempuan itu hendak menemui kematian.

Gulbakhar ditangkap otoritas Cina pada Mei 2017 saat melakukan transaksi bisnis antar negara Cina-Kazakhstan. Gulbakhar di tangkap di kota Urumqi, dia dituduh melakukan transaksi ilegal sebesar 17 ribu Yuan (sekitar USD3.500) dari Cina dan Turki.

Gulbakhar sendiri merupakan warga Kazakhstan beretnis Uighur, di tangannya memegang paspor negara “Virgin Land” tersebut. Tapi Cina menolak pengakuan Gulbakhar, dia dipaksa menunjukkan Kartu Tanda Penduduk Cina. Tak butuh waktu lama bagi keamanan Cina melakukan penahanan.

Setelah ditangkap, dia ditempatkan di sebuah ruangan berukuran 7×3 meter dengan tinggi 6 meter bersama tahanan lainnya. Hanya ada dinding kusam kemanapun mata memandang. Di situ segala aktifitas dilakukan; makan, minum, tidur, buang air, dipukuli.

“Tahanan yang berada di sana adalah korban karena melakukan ibadah shalat, bahkan gara-gara aplikasi alquran dan gambar masjid, mereka ditahan,” tutur Gulbakhar dalam diskusi ‘Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur’ di Restoran Bebek Bengil, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here