Generasi Tua Indonesia Meningkat, Apa Dampaknya?

Lansia
Peningkatan Jumlah Penduduk Lansia. Foto : Istimewa

Oleh: Suandri Ansah

Indonesiainside.id, Jakarta — Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk lansia dari 18 juta jiwa (7,56%) pada tahun 2010, menjadi 25,9 juta jiwa (9,7%) pada tahun 2019, dan diperkirakan akan terus meningkat dimana tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%).

Sekjen Kemenkes, Oscar Primadi mengatakan, dibanding negara-negara maju, angka ini masih kecil dengan rata-rata 10%, bahkan Jepang sudah melebihi 30%. Meski demikian, masyarakat perlu mulai memperhatikan kebutuhan lansia agar lansia tetap sehat dan produktif.

”Di tataran global, situasi ini tidak jauh berbeda bahkan mungkin lebih memprihatinkan seperti fenomena Kodokushi di Jepang yaitu lansia yang meninggal membusuk dalam kesendirian dan kejadiannya cukup banyak sehingga telah menjadi permasalahan serius bagi Pemerintah Jepang,” katanya dikutip laman kementerian, Sabtu (6/7).

Katadata melansir, sinyal penuaan penduduk di Indonesia mulai terdeteksi sejak 2000 silam. Saat itu, hasil Sensus Penduduk menunjukkan persentase lansia Indonesia bahkan sudah melebihi 7 persen.

Menurut publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, DI Yogyakarta merupakan provinsi dengan populasi penduduk lansia terbesar di Indonesia dengan presentase 13,90%. Definisi yang digunakan BPS, suatu wilayah dikatakan memiliki struktur penduduk tua jika persentase lansia lebih dari 7%.

Selain Yogya, provinsi dengan lansia terbanyak juga tercatat di Jawa Tengah (12,46%), Jawa Timur (12,16%), Bali (10,79%) dan Sulawesi Barat (10,37%). Pada 2017, secara nasional fenomena ini terlihat berdasarkan komposisi penduduk, di mana persentase lansia sedikit lebih tinggi dibandingkan balita (8,97%berbanding 8,95 %).

Senada dengan prediksi Kemenkes di atas, berdasarkan proyeksi penduduk hasil sensus tahun 2010, Indonesia baru akan mencapai struktur penduduk tua setelah tahun 2020.

”Pada negara-negara maju telah dikembangkan sistem pelayanan long term care atau perawatan jangka panjang yang pembiayaannya tersendiri di luar jaminan kesehatan, sehingga ketika seseorang memasuki kondisi membutuhkan pelayanan jangka panjang, long term care, dapat ditanggulangi oleh skema asuransi khusus tersebut,” ujar Oscar.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, penyakit yang terbanyak pada lansia adalah untuk penyakit tidak menular antara lain ; hipertensi, masalah gigi, penyakit sendi, masalah mulut, diabetes mellitus, penyakit jantung dan stroke, dan penyakit menular antara lain seperti ISPA, diare, dan pneumonia.

Jumlah orang dengan demensia cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya kasus penyakit tidak menular. Kondisi tersebut akan berdampak pada kondisi ketergantungan lansia akan bantuan orang lain, atau Perawatan Jangka Panjang / Long term care.

Menyikapi isu tersebut, terdapat beberapa komitmen global, antara lain; Resolution World Health Assembly (WHA) 69.3 tahun 2016, Regional Strategy for Healthy Ageing, dan Response to Aging Societies and Dementia yang merupakan salah satu isu yang dibahas di G20.

“Mengingat negara-negara anggota G20 mengalami penuaan dengan sangat cepat dan prevalensi demensia juga akan meningkat dengan sangat cepat seiring pertumbuhan ekonominya, sehingga apabila masalah ini tidak disikapi dengan baik akan mempengaruhi perekonomian suatu negara, kata Oscar. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here