Jimly: Ide Pendidikan Agama Dipisah Belum Tentu Benar

Jimly Asshiddiqie
Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie. Foto : Istimewa

Oleh: Suandri Ansah

Indonesiainside.id, Jakarta — Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengatakan kesimpulan pendidikan agama bisa memicu perpecahan terlalu prematur. Namun, menurutnya pelajaran agama memang perlu dievaluasi.

“Ya itu (mestinya) hasil riset. Dia kan enggak bikin riset, kesimpulannya meloncat. Harusnya ada 16 riset dalam 16 tahun itu 16 hari dia bikin. Kesimpulannya kecepatan,” tutur Jimly kepada Indonesiainside.id, di Jakarta Selatan, kemarin (5/7).

Pernyataan Jimly ini menanggapi usulan dari Pendiri President University, Setyono Djuandi Darmono yang meminta agar pelajaran agama dihapus. Sebagai gantinya, sekolah menguatkan pelajaran Budi pekerti.

Jimly mengatakan, pemisahan pelajaran dari sekolah boleh saja sebagai ide. Tapi, untuk diterapkan sebagai perundangang-undangan di Indonesia belum tentu bisa.

Dia menjelaskan, ide semacam itu bukanlah ide baru di ranah akademis. Ia mencontohkan, ide serupa pernah juga dilontarkan di Amerika sekitar dua abad lalu mengenai hubungan agama dan negara

Namun, kebijakan yang diterapkan di Amerika velum tentu juga cocok dilakukan di Indonesia. Dia mengatakan, hubungan agama dengan negara di Amerika berbeda dengan di Indonesia.

“Di Amerika, agama dan negara itu friendly, tidak campur aduk. Di Indonesia brotherly, keluarga. Dia kolaborasi,sama-sama mendidik warga menjadi religius supaya dia berakhlak bermutu dan berintegritas warganya,” kata Jimly.

Jimly menambahkan, ide tersebut semestinya disikapi secara arif sebagai bahan untuk merefleksi kembali kualitas ajar pendidikan agama di Indonesia. Apakah sejauh ini pendidikan agama sudah efektif membentuk perilaku mulia.

“Jangan jangan pendidikan kita formalistik. Jadi membuat orang beragama secara formalistik tapi tidak membekas di perilaku. (Rajin) shalat, pakaian (islami), begitu ngobrol tidak sopan. Jadi agama tidak tercermin di akhlak.

“Makanya perlu dievaluasi. Fungsi pendapat itu tadi untuk mengevaluasi tapi belum tentu itu yang benar.” (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here