33 Tahun YDGRK, Kiprah Pengabdian yang Inspiratif

mbak tutut

Oleh: Ahmad ZR dan Nur Diansyah

Indonesiainside.id, Jakarta – Dua yayasan sosial yang menjadi penanda dan jejak dedikasi dari almarhumah Siti Hartinah Soeharto atau Ibu Tien kepada masyarakat Indonesia, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) dan Yayasan Harapan Kita (YHK) baru saja menapaki usia baru. YDGRK kini genap berumur 33 tahun, sedangkan YHK telah mencapai usia 51 tahun.

Selama sepertiga abad berkiprah, YDGRK telah menyalurkan bantuan sekitar Rp64 miliar. Selama itu pula, yayasan tersebut telah menyalurkan bantuan di 1.099 lokasi pada 899 kejadian bencana di 34 provinsi di Indonesia, serta beberapa titik bencana dunia.

“Saya kira ini kiprah-kiprah yang luar biasa. Bukan hanya ngomong tapi juga langkah-langkah konkret dalam rangka membantu bangsa ini dengan memberikan solusi-solusi yang nyata,” kata mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Subiakto Tjakrawerdaja, saat ditemui Indonesia Inside, akhir pekan ini.

Dia berharap, kiprah YDGRK dapat dijadikan pembelajaran bagi yayasan dan organisasi lainnya di Tanah Air. Peranan mereka sangat dinanti oleh masyarakat, mengingat kondisi ekonomi akhir-akhir ini dinilai cukup berat. “Yang penting adalah niat kita untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang jumlahnya masih besar,” tuturnya.

Sekretaris Jenderal YDGRK, Mohamad Yarman menuturkan, setahun sebelum pendirian YDGRK, bertepatan 40 tahun berdirinya Organisasi Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) pada 1985. Kala itu, Presiden Soeharto berkunjung ke markas organisasi yang berada di bawah naungan PBB itu di Roma, Italia.

Pak Harto membawa bantuan dari para petani Indonesia, berupa hasil pertanian yang saat itu berlimpah ruah. “Pak Harto mengantarkan langsung sebagian hasil pertanian itu untuk disampaikan FAO kepada saudara-saudara kita di Afrika yang sakit dan meninggal akibat kelaparan,” ujar Yarman.

Kala itu, kemarau kelewat panjang hingga membuat orang-orang, terutama bayi dan banyak anak-anak tidak mampu bertahan hidup. “Saat itu dunia tergugah hingga meluncurlah berbagai program besar, bahkan terbit pula satu lagu monumental yang hingga hari ini bisa kita rasakan getar kemanusiaannya, ‘We Are The World’,” ucap Yarman.

Indonesia saat itu bukanlah bangsa yang bisa berpangku tangan melihat fenomena yang mengguncang perasaan itu. Hati nurani masyarakat Indonesia terpanggil. “Kita pun memberikan andil, yang kemudian dihargai tinggi. Organisasi federasi pangan dunia itu memberikan medali dan penghargaan yang tinggi kepada Pak Harto,” ujarnya.

Teladan yang ditunjukkan Pak Harto menggerakkan hati Ibu Tien untuk berbagi kasih sayang dan perhatian nyata kepada keluarga-keluarga Indonesia yang begitu merana karena tertimpa bencana. Keinginan yang sangat kuat untuk menemani dan menyantuni, turut merasakan duka dan penderitaan sesama, segera dan seketika dapat dilaksanakan berkat bantuan dan dana yang terkumpul dari kedermawanan masyarakat dan para pengusaha.

Kesetiakawanan sosial yang tulus telah 33 tahun diantarkan oleh seluruh Pengurus YDGRK Siti Hartinah Soeharto. Ibu Tien selaku ibu negara kala itu memegang langsung komandonya.Ibu Tien Soeharto memercayakan pengabdian besar itu turut dilaksanakan oleh putra-putri dan menantunya. Di antara mereka ada Mbak Tutut, Mas Indra Rukmana, Mas Sigit, Mbak Titiek, Mas Tommy, dan Mbak Mamiek Soeharto menjadi ujung tombak yang memecah kesedihan.

Putra-putri presiden itu menguatkan dan mengajak warga kembali menyusun harapan bahwa hidup tidak harus berhenti bermakna hanya karena bencana. Mereka membawakan berbagai keperluan yang sangat dibutuhkan para korban musibah alam seperti angina ribut atau puting beliung, gempa-gempa tektonik yang menelan rumah-rumah warga dan jalan-jalan raya, gunung meletus, banjir bandang, gelombang pasang, tsunami, tanah longsor, kebakaran, juga para korban kemarau panjang.

Kiprah yayasan pun berskala internasional dengan pemberian santunan untuk korban musibah di Saudi Arabia, korban perang Teluk Persia, dan lainnya. Ibu Tien Soeharto sendiri sering kali mengantarkan langsung kebutuhan mendasar perkotaan di daerah seperti gerobak sampah dan merehabilitasi banyak perkampungan kumuh.

Yayasan juga mengadakan berbagai pelatihan dan simulasi bencana untuk para relawan, mengukuhkan keberadaan mereka, kemudian menyerahkannya kepada pemerintah daerah setempat untuk bertugas di lokasi-lokasi bencana. Di bawah komando Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, hingga kini YDGRK tetap melanjutkan bakti sosialnya.

Generasi ketiga keluarga Pak Harto dan Ibu Tien tampak sangat bersemangat mengikuti jejak langkah eyang, ayah dan bundanya tercinta. Mbak Danty Rukmana, Mbak Eno Sigit, dan Mbak Gendis Trihatmojo telah menjadi bagian “pasukan terlatih” YDGRK Siti Hartinah Soeharto. Mereka kini ujung tombak pelanjut pengabdian Presiden RI ke-2 Bapak Muhammad Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto, di ranah kemanusiaan Tanah Air Indonesia. (AIJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here