Cerita Surahmi Merpertahankan Rumah Jawa Kuno ‘Joglo’ Miliknya

Rumah joglo berusia ratusan tahun milik Surahmi di Gunung Kidul, Yogyakarta.(Foto: jogjainside.com)

Indonesiainside.id, Gunungkidul – Sebuah rumah Jawa Kuno masih berdiri kokoh di Pedukuhan Karanganom 2, Ngawis, Karangmojo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rumah ini milik Surahmi.

Rumah berusia ratusan tahun ini masih dirawat dan dijaga dengan baik oleh Surahmi, generasi ketiga pemilik rumah tersebut.

Ia menuturkan rumah Jawa berdinding kayu tersebut dibangun tahun 1918 oleh kakenya, Tanurejo. Kala itu sang kakek merupakan seorang perangkat desa di Ngawis.

“Kemudian rumah ini diwariskan ke ayah saya, Sujiwo Rejo baru ke saya,” katanya.

Rumah ini sendiri masih nampak kokoh dan utuh dengan beberapa bagiannya, mulai dari teras, pendopo, pringitan, tiga sentong dan gandok kiwo. Surahmi mengatakan bagian yang sudah hilang yakni gandok tengen dan bagian depan rumah yang sudah diganti dengan kaca sebagain.

Rumah ini pun diakuinya tidak luput dari incaran para kolektor, namun semua selalu ditolaknya. Ia selalu menolak tawaran pembeli karena beranggapan bahwa rumah tersebut adalah warisan yang harus dijaga dan punya histori yang panjang.

Bahkan pada tahun 1940an rumah tersebut pernah digunakan sebagai bagunan sekolah untuk rakyat.

Untuk perawatan sendiri ia mengatakan hanya membersihkan rumah tersebut setiap harinya.

“Merawatnya hanya bersih-bersih saja, kalau untuk renovasi tidak. Dulu hanya sempat ganti genteng karena waktu gempa tahun 2006 gentengnya banyak yang rusak,” katanya.

Kepala Seksi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta, Wiwit Kasiyati mengatakan rumah Joglo itu merupakan satu dari sepuluh bangunan warisan budaya yang mendapat penghargaan.

Pihaknya pun selalu memberikan kompensasi melalui proses seleksi kepada para pelestarinya.

“Kompensasi ini melalui seleksi. Setiap tahun kami anggarkan untuk sepuluh pelestari cagar budaya. Harapannya agar yang bersangkutan tidak mudah tergiur untuk menjual bangunan tersebut dan terus melestarikan bangunan yang dimilikinya,” katanya.

Ia juga berharap pemberian kompensasi menjadi pemicu para pemilik bangunan tua agar tidak mudah tergiur menjual apalagi menelantarkan bangunan miliknya. Semua itu dilakukan agar bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai sejarah dapat terus lestari dan tidak terbengkalai. (Sug/PS/INI Network)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here