Muktamar Pemikiran Santri Nusantara Digelar di Ponpes Ash Shiddiqiyah Jakarta

Oleh: Ahmad ZR

Indonesiainside.id, Jakarta — Muktamar Pemikiran Santri Nusantara pertama kali diselenggarakan 2018 lalu di Yogyakarta. Pada tahun 2019, kegiatan ini kembali diselenggarakan di Pondok Pesantren Ash Shiddiqiyah, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama Kamaruddin Amin mengapresiasi terselenggaranya kembali Muktamar Pemikiran Santri Nusantara. Kegiatan ini terbagi ke dalam dua bentuk, yaitu Call for Papers dan Panel Session.

Call for Papers dilaksanakan untuk mengundang para santri, akademisi, dan masyarakat luas untuk menuangkan gagasan tentang santri, pesantren, dan isu-isu kekinian tentang perdamaian dunia. Sementara, Panel Session berbentuk seminar dan panel yang terbagi ke dalam dua sesi, yaitu Special Panel dan Session Panel.

“Special Panel ini dilaksanakan dengan mengundang narasumber untuk mendiskusikan padangan-pandangan yang berkaitan dengan tema dan subtema dalam kegiatan ini,” katanya di Jakarta, Sabtu (28/9).

Session Panel akan disampaikan oleh peserta Call for Paper terpilih. Hingga kini, panitia telah menerima 547 naskah Call for Papers dan telah dilakukan seleksi naskah dan memilih 126 judul naskah untuk dipaparkan dan didiskusikan dalam kegiatan Session Panel, scsuai dengan subtema yang dipilih.

Sebagai kegiatan tambahan, dalam sela-sela kegiatan Session Panel dilaksanakan Bedah Buku “Nasionalisme Kebangsaan” dan “Fiqh Kebangsaan 2” yang merupakan karya tim penulis pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, serta buku “Simpel & Mudah Menguasai 175 Kaidah Fikih” dan buku “Simpel & Mudah Menguasai 125 Kaidah Ushul Fikih”, yang merupakan karya Dosen Ma’had Aly Salatiyah Syafi’iyah Situbondo Jawa T imur.

Dia mengatakan setidaknya ada empat tujuan acara tersebut diselenggarakan. Pertama, memberikan pemahaman kepada masyarakat umum dan dunia bahwa pesantren dengan perangkat budaya dan tradisinya merupakan role model dalam menggagas perdamaian dunia.

Kedua, pengarusutamaan literasi media di dunia pesantren guna menangkal gejala radikalisme agama dan kejahatan siber di ruang virtual. Ketiga, mengupas beragam strategi pesantren dalam mewujudkan perdamaian dunia dan Islam yang rahmatan lilalamin.

“Dan keempat, membuat agenda kerja ril dalam rangka mengarusutamakan pesantren dalam pergaulan dunia,” ujarnya.

Kamaruddin menjelaskan, kegiatan dengan tajuk “Santri Mendunia: tradisi, eksistensi, dan perdamaian global,” ini diturunkan ke dalam tujuh sub tema. Pertama, santri dan wajah ramah pesantren di dunia; kedua, pedagogi pesantren dan perdamaian dunia; ketiga, modalitas pesantren dalam mewujudkan perdamaian dunia; keempat, pesantren dan resolusi konflik; kelima, santri, cyber war dan soft literary; keenam, akar moderasi dan perdamaian dalam kitab kuning; dan ketujuh, kesusastraan dan pesan Damai pesantren.

“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah Pusat, Kiai Haji Noer Muhammad Iskandar yang berkenan menjadi tuan rumah kegiatan ini,” katanya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here