Metode Pembelajaran Matematika Harus Diubah Agar Disukai Anak Didik

Indonesiainside.id, Jakarta – Matematika dan sains adalah mata pelajaran yang umumnya tidak digemari oleh para siswa. Salah satunya karena menggunakan berbagai rumus dan perlu penghitungan yang rumit dan dinilai membikin kepala makin pusing.

Ironisnya, dua mata pelajaran itu merupakan bagian dari bidang ilmu yang sangat penting di era revolusi industri 4.0. Bidang ilmu itu adalah STEM, singkatan dari Science (sains), Tecnology (teknologi), Enginering (teknik rekayasa) dan Mathematics (matematika).

“Hal ini sebenarnya terjadi karena pola pengajaran yang tidak tepat sehingga siswa merasa terbebani.,” kata Tatsunosuke Suzuki Senior Manager Business Development Shinkenjuku, di Jakarta, Kamis(13/2).

Padahal, pendidikan berbasis STEM memiliki banyak sekali manfaat bagi para siswa. Dengan menguasai STEM, siswa akan memiliki pola pikir yang logis, sistematis, serta kritis. Pola pikir ini juga menjadi bekal untuk menguasai mata pelajaran lain, serta dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan menguasai matematika misalnya, siswa akan mampu meningkatkan soft skillnya. Misalnya mampu memecahkan masalah dengan cara efektif dan efisien, kesabaran, kerja sama tim, dan berbagai keahlian mental lainnya,” lanjutnya.

Matematika selama ini menjadi momok bagi sebagian besar siswa di sekolah, karena belum mengetahui bagaimana metode belajarnya agar menyenangkan. Karena, menguasai matematika sesungguhnya bukanlah hal yang sulit.

“Matematika menjadi pelajaran yang ditakuti para siswa, padahal banyak metode belajar yang mudah untuk memahaminya,” katanya lagi.

Dijelaskannya, sebagai ilmu pasti matematika memiliki peran besar dalam membantu anak untuk mengasah kemampuan berpikir analitis, sistematis, kritis dan logis sebagai bekal untuk bersaing di masa depan. “Apalagi pada pendidikan abad-21, anak-anak diharapkan bisa berpikir kritis dan kreatif untuk mengatasi masalah di masa yang akan datang. Karenanya penting merubah paradigma yang ada, menjadi menguasai matematika itu mudah,” lanjutnya.

Persepsi pembelajaran matematika sesuatu yang sulit harus dirubah menjadi sebuah hal yang menyenangkan dan mengundang rasa penasaran anak untuk mau mempelajarinya.

Berbagai metode untuk mengajarkan matematika biasanya diajarkan di lembaga bimbingan, baik privat maupun kolektif. Karenanya, banyak yang berlomba-lomba membawa anaknya untuk les matematika.

“Pasar ini sudah ditangkap oleh lembaga bimbel di tanah air. Saat ini, banyak lembaga les yang menawarkan harga terjangkau dan bisa menjadi alternatif untuk membantu anak-anak mencintai pelajaran matematika,” sambungnya.

Shinkenjuku sendiri kini mempopulerkan metode pembelajaran matematika secara mudah bagi anak didik dengan cara menawarkan partnership program kepada ibu-ibu rumah tangga. Hal ini agar mendorong anak-anak mencintai pelajaran matematika.

Lembaga Pendidikan non-formal dengan metode belajar matematika nomer satu di Jepang itu saat ini memiliki sekitar 4000 siswa dengan 30 cabang di seluruh Indonesia. Mereka juga memiliki 54 sekolah yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Yogya, Solo, Malang, dan Surabaya.

Ditambahkannya, sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia, STEM seharusnya diterapkan sejak dini di Indonesia. Dengan penguasaan bidang ilmu tersebut akan membantu Indonesia bersaing di skala global.

“Anak-anak yang sejak dini dibekali dengan pendidikan STEM jika besar nantinya biasanya menjadi generasi ilmuwan yang memajukan perkembangan teknologi dan riset di negaranya,” tuturnya.(EP)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here