Mengenal Mpu Uteun, Tim Penjaga Hutan Perempuan Pertama di Aceh

Tim penjaga hutan perempuan pertama di Aceh, Mpu Uteun. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Banda Aceh – Perempuan adalah bagian penting dalam menjaga kelestarian hutan. Di Aceh, tepatnya di Kampung Damaran Baru, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, telah terbentuk sekelompok ranger perempuan atau disebut sebagai Mpu Uteun (penjaga hutan).

Setiap melakukan tugasnya, para emak-emak tersebut dilengkapi dengan topi, seragam, sepatu bot dan tas berisi perlengkapi patroli hutan. Diketahui, mereka berasal dari Lembaga Pengelola Hutan Kampung (LPHK) Damaran Baru.

Selain itu, tim ini juga menjadi terobosan baru karena merupakan ranger pertama di tanah rencong yang bertugas melindungi kawasan hutan negara melalui skema hutan desa.

Ketua LPHK Damaran baru, Sumini, mengatakan tim ranger perempuan ini dibentuk berdasarkan inisiatif dan rasa tanggung jawab untuk menjaga sumber-sumber kehidupan dengan melakukan pengelolaan, pemanfaatan dan perlindungan kawasan hutan lindung.

Lembaga itu juga telah dibebani Izin hak pengelolaan melalui skema Hutan Desa yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK.9343/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/11/2019 pada bulan November 2019 lalu.

Sumini berharap, dengan terbentuknya tim ranger perempuan ini bisa menjadi pahlawan untuk melindungi hutan, sumber mata air dan sumber-sumber kehidupan lainnya secara langsung dan berkelanjutan.

“Perlindungan hutan terkesan seperti pekerjaan untuk laki-laki saja, tetapi perempuan Kampung Damaran Baru mengambil peran kunci untuk melindungi kawasan hutan, bagi kami menjaga hutan adalah menjaga kehidupan, hutan adalah nafas hidup kami,” ujar Sumini, Jumat (14/2).

Menurut Sumini, saat hutan rusak, perempuanlah yang akan menerima dampak lebih dari bencana tersebut. Oleh karena itu, dengan terbentuknya tim Mpu Uteun ini, Kampung Damaran Baru akan mendapatkan lebih banyak manfaat.

“Nantinya Tim MPU Uteun ini akan patroli di wilayah pinggiran daerah aliran sungai. Pada umumnya, setiap patroli bersifat pulang-pergi karena jangkauan wilayah patrolinya tidak begitu jauh dari desa. Mereka juga berkolaborasi dengan tim patroli laki-laki untuk jangkauan yang lebih jauh,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Farwiza, mengatakan sangat mendukung inisiatif LPHK Damaran Baru untuk membentuk ranger perempuan. Dia berharap tim ranger perempuan tersebut bisa menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Aceh untuk melindungi hutan dan lingkungannya.

“Pembentukan tim Mpu Uteun ini adalah suatu hal yang baru, tim ranger perempuan pertama di Aceh. Semoga menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Aceh,” pinta Farwiza. (PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here