Siswa di Banda Aceh Ciptakan Pelindung Wajah untuk APD Paramedis

Pelindung wajah karya siswa SMK Negeri 2 Banda Aceh. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Banda Aceh – Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Banda Aceh, melakukan inovasi kreatif dengan menciptakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa pelindung wajah (Face Shield Mask). Pelindung wajah ini diproduksi sendiri oleh mereka guna dapat dipergunakan oleh paramedis dalam menjalankan tugasnya menangani pasien virus corona (Covid-19).

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Rachmat Fitri menyebutkan saat ini pelindung wajah sangat dibutuhkan oleh tenaga medis yang menangani Covid-19. Alat tersebut berguna untuk melindungi tenaga medis agar terhindar dari virus yang ditularkan melalui cipratan batuk dan bersin dari pasien pada saat mereka berkerja. “Face Shield Mask ini merupakan salah satu perangkat APD (Alat Pelindung Diri) yang selalu digunakan tenaga medis saat menangani pasien yang terduga atau sudah terpapar Covid-19 atau Virus Corona,” kata Rachmat, Jumat (3/4).

Sementara itu, Kepala SMK Negeri 2 Banda Aceh, Muhammad Husin menyampaikan, ide pembuatan pelindung wajah tersebut berawal kala Covid-19 mewabah di Indonesia dan pemerintah bersama sejumlah komponen masyarakat melakukan upaya dalam memutus mata rantai penyebaran virus. Oleh karena itu, hal tersebut membuat pihaknya terketuk untuk memberikan kontribusi.

“Setelah membaca di berbagai media bahwa tenaga medis khususnya di Aceh kekurangan APD dalam menangani Covid-19, akhirnya kami terpikir untuk membuat Face Shield Mask ini,” sebutnya.

Menurut Husin, alat pelindung wajah buatan anak didiknya itu sudah memenuhi standar medis yang ditetapkan. Mulai dari desain, ukuran dan bahan-bahannya sudah merujuk pada standar pembuatan Face Shield Mask.

“Kami membuat alat pelindung diri di bengkel sekolah, karena kami sudah memilliki mesin print (cetak) tiga dimensi untuk mencetak plastik mika. Jadi, untuk membuat alat APD ini sudah tersedia mesinnya, tinggal membeli bahan-bahannya saja,” ujarnya.

Ia menambahkan setelah hampir sebulan beroperasi, siswa SMK Negeri 2 Banda Aceh sudah mampu menciptakan sekitar 30 hingga 40 unit. Setiap unit membutuhkan durasi pembuatan berkisar dua hingga tiga jam pekerjaan.

“Kalau seandainya hasil produk siswa kami masih terdapat kekurangan, kami siap untuk memperbaiki. Intinya kami ingin memberikan kontribusi dengan menyumbangkan pemikiran dan alat APD yang berguna untuk penanganan Covid-19 di Aceh,” ujarnya. (PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here