Ibu Meninggal, Anak Mau Datang Dilarang Warga

Peziarah sedang berdoa pada makam kerabatnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Foto: Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

Aneka cerita duka banyak mewarnai selama wabah virus corona ini. Jika ada yang meninggal lantaran terinfeksi virus corona, proses pemakamannya pun harus memenuhi standar pasien Covid-19. Selain jenazah dibungkus plastik, tenaga pemakaman memakai alat pelindung diri (APD) lengkap dan tak ada teman-teman yang mengiringi atau takziah, keluarga pun tidak boleh mendekati jenazah.

Tata cara itu merupakan upaya untuk menghindari penularan virus flu yang berasal dari Wuhan, Cina. Meski terasa menyesak di dada, tak ada yang bisa dilakukan keluarga kecuali pasrah dan menerima tata cara atau standar operasi prosedur (SOP) pemakaman jenazah Covid-19. Tujuannya agar virus tidak menular.

Peristiwa lebih mengenaskan dialami keluarga S Wasesoningsih alias Naning. Perempuan yang tinggal di Depok, Jawa Barat, itu lima hari lalu mendapat kabar bahwa ibunya (Lasimah binti Djuni Djojolono) yang tinggal di Tulungagung, Jawa Timur, telah meninggal dunia pada sekitar Maghrib.

Lantaran ibunya sudah berumur 87 tahun, lagi pula telah beberapa bulan menderita sakit, Naning dan keluarga berupaya ikhlas menerima kabar duka itu. Meski sedih, ia dan keluarga berupaya untuk menerima kabar duka itu dengan sekuat hati. Ia lalu mengabarkan akan pulang ke Tulungagung keesokan harinya untuk mengiringi pemakaman ibunya.

Tentu saja keluarganya di Tulungagung merasa senang akan kehadiran Naning dan keluarga. Kabar itu kemudian oleh anggota keluarganya sampaikan pada warga sekitar yang ikut takziah. Di sinilah justru permasalahan baru timbul.

Rupanya warga sekitar keberatan atas kedatangan angggota keluarga almarhumah yang berasal dari luar kota. Apalagi jika kota asal anggota keluarga itu dari wilayah zona merah (zona pandemi corona).

“Ya, warga setempat tidak bisa menerima kedatangan saya dan keluarga. Sudah dijelaskan pula, bahwa saya itu anak kandung dari almarhumah ibu. Ibu saya pun meninggal bukan karena virus corona. Akan tetapi warga tetap keberatan,” papar Naning pada Indonesiainside.id, pekan lalu.

Semula Naning ingin ngotot untuk bisa hadir di pemakaman ibundanya. Namun, kengototan itu surut setelah ada ancaman dari warga sekitar. Warga mengancam tidak akan mau memakamkan jenazah jika ada anggota luar kota yang hadir.

Alasan warga, mereka tidak tahu kondisi pendatang dari luar kota. Jika ternyata membawa virus corona yang menular, maka itu akan sangat berbahaya bagi kesehatan warga sekitar. Warga memilih melindungi lingkungan sekitar dari pada menerima kedatangan orang dari luar kota.

Lantaran memang anggota keluarga di Tulungagung sangat terbatas dan mengandalkan warga sekitar untuk proses pemakaman tersebut, Naning dan keluarga pun mematuhit tuntutan warga. Naning dan keluarga tak jadi berangkat ke Tulungagung. Ia hanya mendapat kabar dan film pemakaman ibundanya dari kerabatanya di Tulungagung.

“Memang warga sekitar yang membantu pemakaman ibu saya. Saya memilih untuk mengalah tidak datang asalkan ibu saya dimakamkan dengan baik. Daripada saya memaksa datang tapi kondisi jenazah ibu telantar,” papar Naning.

Cerita itu dibenarkan oleh Siswoyo, warga yang tinggal tak jauh dari kediaman almarhumah. Sikap warga seperti itu semata-mata karena wabah corona ini sedang ganas atau belum mereda.

“Benar, warga menolak kedatangan kerabatnya yang dari luar kota. Mereka tidak mau membantu proses pemkaman kalau anggota keluarga almarhumah dari luar kota ikut datang. Kondisi pandemi corona saat ini membuat warga harus bersikap hati-hati,” tuturnya.

Keesokan harinya, jenazah pun dimakamkan dengan lancar. Prosesi pemakaman sepenuhnya dijalankan oleh warga sekitar, alhamduillah. (AS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here