Cerita Pengguna Angkot: Lebih Lengang Selama PSBB Transisi

Situasi lalu-lintas yang lengang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Foto: Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Pemprov DKI Jakarta telah mengaktifkan kembali operasional angkutan umum sejak 5 Juni kemarin pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. Jumlah penumpang angkutan masih dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas normal.

Tommy (28), seorang pengguna kereta reli listrik (KRL) atau commuter line mengaku lebih memilih pergi di luar jam sibuk. Dia masih khawatir dengan penularan virus Covid-19 lewat orang tanpa gejala (OTG).

“Selama pandemi ini palingan naik kereta untuk antar dagangan dan belanja keperluan sambal. Berangkat biasanya siangan dikit, kalau pagi dijamin penuh,” ujarnya kepada Indonesiainside.id, Rabu (17/6).

Sesuai protokol pencegahan Covid-19 di stasiun, petugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh kepada penumpang yang hendak masuk. Masker tentu saja wajib dikenakan. Petugas TNI ikut berjaga di pintu masuk untuk mendispilinkan warga.

Tommy berangkat dari Stasiun Bojonggede, Bogor, Jawa Barat. Selama masa PSBB transisi ini, ia merasa jika kedatangan kereta menjadi lebih lama hingga 15 menit. “Waktu di perjalanan seperti biasa, 50 menitan,” tuturnya.

Karena berangkat di luar jam sibuk, situasi di dalam rangkaian jadi lebih lengang dan selalu kebagian tempat duduk. Sehingga, Tommy lebih santai membaca buku atau streaming sinetron kesuakaannya, Preman Pensiun, lewat aplikasi di ponselnya.

Anwar (30), seorang pekerja filantropi justru terpaksa naik commuter line karena Transjakarta Koridor Lebak Bulus-Senen yang iasa ia tumpangi tak beroperasi. Dia berangkat dari stasiun Pondok Ranji, Tangerang Selatan ke Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan menuju kantornya di bilangan Pejaten.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here