Reshuffle Kabinet Mencuat, Suhendra Hadikuntono Masuk Radar Jokowi? Ini Sepak Terjangnya Selama Ini

Tokoh Intelijen Senior, Suhendra Hadikuntono. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Isu reshuffle kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencuat di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Bukan tanpa alasan, Jokowi marah besar karena para menteri dan jajarannya tidak bekerja secara maksimal.

Berdasarkan data ICW, sejumlah menteri mempunyai reputasi buruk, di antaranya Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Sosial Juliari Batubara hingga Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan.

Berdasarkan informasi yang beredar, ada salah satu nama yang akan masuk ke dalam kabinet Jokowi yaitu Suhendra Hadikuntono. Seorang tokoh intelijen senior yang ikut mengantarkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Untuk mengenal lebih jauh suami dari Kezia Kharisma ini, saya diberikan berkesempatan bertemu dan berbincang banyak hal dengan sosok yang rendah hati dan kharismatik tersebut. Pertemuan tersebut di bilangan Kuningan, Jakarta, Kamis (2/7).

Perbincangan kami diawali tentang sepak bola dan masalah kebangsaan. Dalam perbicangan tersebut, saya dapat menangkap ternyata pemikiran dan wawasannya sangat luas serta berpikir secara sistematis dan logis.

Kesan pertama yang saya dapatkan dari sosok Suhendra adalah manusia langka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, tidak ada ambisi apa pun. Dia hanya ingin berbuat sesuatu untuk Tanah Air.

Dengan kecukupan materi yang dimilikinya saat ini, Suhendra hanya ingin menghabiskan sisa umurnya untuk mengabdi buat bangsa dan negara.

Siapa Suhendra?

Pria lulusan University Kebangsaan Malaysia ini merupakan pemilik beberapa perusahaan multinasional yang bernaung dalam bendera Indo Sarana Prima Group yang bergerak di bidang security, parking, fumigasi, plantation, furniture, dan PT Indo Cetta Prima, salah salah satu perusahaan “unicorn” di Indonesia.

Pria kelahiran Medan Sumatera Utara 50 tahun lalu ini, sengaja menghindari sorotan media massa dalam setiap aktivitasnya. Dia selalu bekerja dan berkarya dalam senyap. Tapi apa yang telah dilakukan untuk negeri ini membuat saya geleng-geleng kepala. Mari kita simak beberapa kisahnya.

Mencegah Pemerintah Indonesia Diadili di Mahkamah Internasional

Kisah keterlibatan Suhendra dalam kasus ini bermula saat dimintai tolong oleh sahabatnya Duta Besar Vietnam di Indonesia pada akhir 2013. Pemerintah Vietnam protes keras kepada Pemerintah Indonesia atas ditahannya 90 warga negara Vietnam di Kepulauan Anambas yang tertangkap mencuri ikan di perairan Indonesia.

Protes keras dari Vietnam bukan karena untuk membela warganya yang melakukan pencurian ikan, tapi ternyata 90 orang tersebut telah ditahan oleh otoritas keamanan Indonesia selama setahun tanpa proses hukum. Selama setahun itu mereka diperlakukan tidak manusiawi.

Mereka dipaksa kerja keras tanpa dikasih makan yang layak bahkan tanpa dibayar sepeser pun. Kondisi mereka benar- benar mengenaskan. Bahkan ada yang sakit jiwa karena diperlakukan seperti budak.

Kejadian ini memicu gelombang protes di Vietnam. Bahkan konon ada demonstrasi besar-besaran di Vietnam sampai konsulat RI di ho chimin dibakar massa. Peristiwa ini sengaja ditutupi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada waktu itu, karena akan mempermalukan bangsa dan negara.

Atas usaha keras melalui lobi-lobi dengan Pemerintah RI, akhirnya Suhendra berhasil memulangkan 90 orang warga Vietnam tersebut dengan biaya dari kantong sendiri. Semua dilakukan dengan “sillence operation”, tanpa terendus media nasional maupun internasional.

Tujuannya agar Indonesia terhindar dari tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat. Suhendra telah  bekerja keras dalam senyap untuk menyelamatkan kehormatan negara.

Redam Demo Perangkat Desa yang Berpotensi Chaos

Beberapa bulan setelah Joko Widodo menjabat Presiden RI tahun 2014, ratusan ribu perangkat desa dari seluruh Indonesia datang ke Jakarta, menggeruduk Istana Merdeka. Tujuan mereka menagih janji Jokowi saat kampanye bahwa perangkat desa akan diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Tapi ternyata janji Jokowi tidak kunjung direalisasikan oleh Menteri Dalam Negeri dengan berbagai alasan. Mengamuklah mereka.

Dalam demonstrasi tersebut, tidak satu pun aparat Kemendagri atau Mendagri Tjahjo Kumolo yang berani menghadapi para demonstran itu. Akhirnya, Suhendra yang saat itu menjabat Penasihat Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) turun tangan, pasang badan berjibaku menenangkan para demonstran yang sudah mengancam akan membuat kerusuhan.

Masalah pun teratasi dengan baik. Mendagri Tjahjo Kumolo mendapat pujian dan tepuk tangan dari media, sedangkan Suhendra kembali ke dunianya yang sepi.

Membagi Sertifikat Tanah Warga

Seperti biasa, setiap Presiden Jokowi berkunjung ke daerah selalu membagikan sertifikat tanah gratis kepada masyarakat. Hal itu juga dilakukan Presiden Jokowi pada 2018 di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Presiden membagi-bagikan sertifikat secara gratis kepada warga Langkat, dan tentu saja warga bahagia tiada tara mendapatkan sertifikat tanah gratis. Seperti biasa pula, Presiden Jokowi juga membagi-bagikan sepeda waktu itu.

Lalu, apa yang terjadi setelah Presiden Jokowi pulang ke Jakarta? Seluruh sertifikat tanah tersebut ditarik kembali oleh perangkat desa atas perintah Bupati Langkat, katanya. Bagi warga yang mau mengambil sertifikat tersebut harus menebus dengan uang Rp3-5 juta. Sungguh biadab kelakuan oknum aparat pemerintah daerah tersebut, dan hal ini tentu saja tak pernah diketahui Jokowi.

Atas jeritan rakyat kecil itu, Suhendra yang dibantu tim kecilnya bergerilya ke beberapa desa, ke seluruh pelosok Kabupaten Langkat. Beliau mengambil kembali 1.700 sertifikat yang merupakan hak rakyat tersebut. Usaha dari Suhendra tentu saja mendapatkan perlawanan keras dari aparat desa dan kecamatan.

Namun singkat cerita berkat kegigihannya akhirnya Suhendra berhasil menarik kembali ribuan sertifikat tanah tersebut dari aparat desa dan mengembalikan kepada rakyat. Peristiwa ini juga luput dari pemberitaan media nasional.

Lantas, apa motivasi Suhendra sehingga melakukan hal itu?

Jawabnya, “Saya hanya ingin menyelamatkan nama baik Pak Jokowi yang telah berniat baik, tapi ‘digergaji’ oleh anak buahnya di level bawah.” Makjleb!

Melawan Mafia Sepak Bola Indonesia

Anda pasti sudah membaca berita 17 orang oknum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan mafia sepak bola ditangkap dan diproses hukum oleh Polri. Tapi tahukah Anda bahwa Suhendra Hadikuntono yang merupakan Ketua KPSN (Komite Pembaharuan Sepakbola Nasional) yang menginisiasi pembongkaran kasus itu?

Suhendra begitu gemas dengan kondisi semakin maraknya mafia sepak bola di Indonesia. Dia dibantu beberapa orang kemudian membentuk KPSN, dan hebatnya Suhendra pula yang membiayai semua kegiatan KPSN, bahkan membiayai sebagian kegiatan operasional aparat kepolisian untuk menangkap para mafia sepak bola. Suhendra pula yang membiayai beberapa pertemuan KPSN dengan pemilik suara (voters) PSSI.

Saat saya tanya, sudah habis berapa untuk membongkar mafia sepak bola ini? Dia hanya tersenyum kecil, “Hanya beberapa M-lah”

Kemudian saya kejar lagi, apakah Bapak punya niat menjadi Ketua Umum PSSI? Dia menggeleng keras.

“Saya tidak ingin jadi apa-apa. Saya hanya ingin sepak bola Indonesia kembali ke marwahnya sebagai alat pemersatu dan kebanggaan bangsa dan negara”.

Namun konon ini adalah operasi di dalam operasi yg sesungguhnya yaitu menetralisir 35 juta suara massa mengambang seporter sepakbola. Di mana dunia sepakbola seperti agama ke dua di Indonesia yg mudah diarahkan suaranya untuk mendukung calon presiden tertentu yang saat itu dipimpin oleh mantan Pangkostrad Edy Rahmayadi.

Seperti diketahui Edy merupakan tink tank salah satu calon presiden saat itu. Kemudian tanggal 21 Januari, Edy jatuh melalui operasi yang sangat mulus tanpa setetes darah pun tertumpah.

Sambil merendah Suhendra mencontohkan Budi Waseso yang sukses menetralisir 7 juta-an massa mengambang di Pramuka yg saat itu dipimpin oleh salah satu oknum partai non koalisi.

Saya kemudian iseng bertanya, apakah Pak Jokowi mengetahui hal tersebut?

Sambil tersenyum dia menjawab “Allah maha tahu, karena semua yang saya lakukan tersirat bukan tersurat”

Kalau ditawari Presiden Jokowi untuk menjadi menteri, Bapak bersedia? Beliau menggeleng, “Saya tidak ingin jabatan apa-apa, Saya hanya ingin jadi pejuang bagi NKRI saja. Kalaupun Pak Jokowi memanggil saya untuk mengabdi membantu beliau, saya akan minta ditempatkan di tempat paling berbahaya dan tidak ada uangnya. Agar saya bisa total dan fokus mengabdi untuk negeri ini”

“Karena secara materi alhamdulillah saya sudah banyak diberikan rezeki oleh Allah SWT. Tapi kalau tidak dipanggil, saya akan tetap berbuat apa pun yang bisa saya lakukan untuk menjaga keutuhan NKRI”. (Msh)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here