Wildan Hasan: Islam Memang Rahmatan Lil Aalamiin, Tapi Umat Islam Tidak Lemah dan Lembek

Umat Islam melakukan shalat subuh berjamaah pertama di Masjid Sultan Eyup di Istanbul, Turki, Rabu (24/6/2020). Agensi Anadolu/Ahmet Bolat

Indonesiainside.id, Jakarta – Pascakasus penistaan agama yang terjadi 2016 silam, kejadian tersebut seolah tak pernah berhenti. Teranyar, warga keturunan beragama Budha menista masjid dan pesantren Persatuan Islam (Persis) di Bandung belum lama ini seolah mengulang ‘lagu lama’ kasus penodaan terhadap Islam berakhir dengan permintaan maaf di atas materai enam ribu.

Alumni Pesantren Persis 99 Rancabango Garut, Ustaz Wildan Hasan, mengatakan, alasan klasik mengapa permintaan maaf itu diterima dan proses hukum tidak dilanjutkan adalah karena ingin menunjukkan bahwa Islam itu rahmatan lil ‘aalamiin. Menurut dia, anggapan seperti ini harus dihilangkan dari pikiran dan benak umat bahwa secara prinsip misi Islam itu memang rahmatan lil ‘aalamin, tapi bukan berarti Islam dan umat Islam itu lemah dan lembek.

“Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa Islam anti kekerasan, seiring terjadinya berbagai aksi-aksi kekerasan akhir-akhir ini di tanah air yang entah kenapa dituduhkan kepada Islam. Islam anti kekerasan adalah sebuah ungkapan apologetik yang menyesatkan saat dijadikan pembelaan bahwa Islam sebagai way of life tidak mengajarkan kekerasan. Benarkah?,” ujarnya di Bekasi kepada Indonesiainside.id, Selasa (6/10).

Ia menyampaikan, keras atau kekerasan sifatnya fithriyyah (manusiawi) sebagaimana lembut juga adalah fitrah. Hal yang menjadi tabiat dasar manusia yang tidak bisa dan tidak boleh dihilangkan melainkan harus diarahkan dan diberdayakan untuk tujuan kebajikan.

Oleh karena kekerasan adalah manusiawi, maka siapa yang melarang seseorang berbuat kekerasan maka telah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Kekerasan tidak lagi manusiawi ketika dilakukan secara berlebihan, sebagaimana juga dengan kelembutan atau kedamaian.

“Di dalam Islam, ‘berlebihan’ dikenal dengan istilah tatharruf. Tatharruf adalah setiap aktifitas yang dilakukan tidak sesuai dengan proporsinya,” katanya.

Ketua MIUMI Kota Bekasi ini melanjutkan, dalam literatur fikih Islam seringkali terdapat penggunaan kalimat ifrath dan tafrith yaitu upaya berlebihan dalam bermudah-mudah dan berlebihan dalam mempersulit. Maka, kekerasan tidak lagi manusiawi ketika dilakukan secara berlebihan, sebagaimana juga dengan kelembutan atau kedamaian.

“Setiap hal yang berlebihan atau ekstrim pasti tidak baik, termasuk dalam persoalan-persoalan kebaikan sekalipun. Sebagai contoh, kecintaan kita kepada Allah harus proporsional sesuai dengan yang diajarkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah,” kata dia.

“Jika tidak, bisa jadi kita menggambarkan Allah sebagai sosok konkrit yang real ada di hadapan kita. Maka jadilah sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat jahiliyyah sebelum Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus,” imbuhnya.

Sebagai agama fitrah, lanjut Wildan, Islam jelas mengadopsi ‘kekerasan’ sebagai salah satu manhaj dakwah. Namun Islam menempatkan kekerasan pada proporsi yang sebenarnya. Sebab secara manusiawi, tidak semua persoalan kehidupan hanya bisa diselesaikan oleh kelembutan semata.

“Kekerasan fisik yang salah satu bentuknya adalah perang (qital) diakui secara syar’i oleh Islam sebagai hukum qhat’i dengan bertebarannya ayat maupun hadits yang melegitimasinya,” katanya.

Adapun teks-teks syariat yang dijadikan legitimasi perang (jihad) tidak pada tempatnya, pelakunya adalah oknum. Oknum akan senatiasa ada pada setiap agama dan kelompok masyarakat.

“Sehingga ekstrimitas dalam Islam tidak bisa dipakai untuk men-judge bahwa Islam agama yang keliru, terlebih jika yang dipersalahkan adalah konsep jihad dalam Islam,” ujarnya.

Terkait hal itu, jika dilihat melalui perspektif teori konspirasi terlihat jelas bahwa gembar-gembor ungkapan Islam anti kekerasan diproduksi oleh musuh-musuh Islam yang menginginkan konsep jihad dalam Islam tereduksi atau paling tidak ada reinterpretasi yang sesuai dengan selera mereka. Jihad adalah syariat Islam yang paling ditakuti oleh musuh-musuhnya.

“Ala kulli hal, kita tahu betul bahwa Jihad adalah syariat Islam yang paling ditakuti oleh musuh-musuhnya. Perjalanan sejarah membuktikan, mereka tidak pernah menang melawan jihadnya umat Islam, maka dalam arti yang sebenarnya, Islam tidak anti kekerasan,” katanya.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya mengatakan, proses hukum akan tetap berjalan dalam kasus ini. Dia mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan menyerahkan kasus ini kepada pihak kepolisian

“Karena pelaku sudah diperiksa dan akan diproses hukum sesuai ketentuan yang berlaku. Maka masyarakat harap tenang dan tidak terpancing emosinya, sehingga akan membuat kerugian berdampak kepada diri sendiri, serahkan semuanya kepada kepolisian,” ujarnya di Polrestabes, kemarin (5/10).

Ia menekankan, pelaku kini ditahan dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. “Langsung kita tahan dengan ancamannya UU ITE dan dapat diancam karena hukumannya adalah 6 tahun penjara,” kata Ulung.

Ulung menjelaskan, saat itu masjid tidak memutar suara apapun. Namun, Kenneth William memasukkan musik diskotik ke konten videonya.

“Seperti musik di diskotik, tidak layak sebuah masjid kok ada mendengarkan musik. Musiknya diskotik, otomatis masyarakat akan bertanya dan menanyakan,” ujarnya. (Msh)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here