Ketua IGI Soroti Kasus Bunuh Diri Siswa SMA di Gowa, Tugas Menumpuk Tapi Jaringan Internet Lelet

Ilustrasi siswa sekolah melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar daring. Foto: antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim menyoroti insiden bunuh diri yang menewaskan siswi SMA di Gowa, Sulawesi Selatan, berinisial MI. Siswa berusia 16 tahun nekat bunuh diri dengan meminum racun, Sabtu (17/10).

“Kemendikbud jangan tinggal diam atas kejadian bunuh diri oleh siswa di Kabupaten Gowa. Seharusnya menjadi peringatan pada pemerintah bahwa masalah penugasan itu adalah sesuatu yang sangat serius memberikan dampak depresi kepada siswa,” kata Ramli dilansir Antara, Senin(19/10).

Korban bunuh diri diduga akibat depresi dengan banyaknya tugas-tugas daring dari sekolahnya.

Korban kerap bercerita pada teman-temannya perihal sulitnya akses internet di kampung dan kediamannya sehingga menyebabkan tugas-tugas daringnya menumpuk.

“Kami sejak awal sudah meminta pemerintah pusat dan menyampaikan langsung ke Mendikbud Nadiem Makarim bahwa beban mata pelajaran yang dialami oleh siswa sesungguhnya, menjadi masalah utama rendahnya kualitas pendidikan kita. Namun hingga saat ini upaya penyederhanaan kurikulum tampaknya masih mengalami jalan buntu,” katanya.

Dia juga menekankan agar kepala sekolah dan para guru konseling mampu mengetahui dan mengukur beban yang dialami oleh siswa akibat banyaknya penugasan penugasan yang dilakukan oleh para guru di suatu sekolah terhadap satu siswa sehingga bisa menjadi standar bagi guru-guru di sekolah tersebut untuk memberikan penugasan kepada siswanya.

Setiap daerah, kata dia, seharusnya mempertimbangkan kemampuan jaringan internet di wilayahnya, ketersediaan alat, baik berupa tablet smartphone maupun laptop dan komputer di daerah tersebut yang dimiliki oleh siswanya kemudian mempertimbangkan kemampuan ekonomi siswa di daerah-daerah tersebut, sehingga pemerintah tidak berlepas tangan cukup dengan memberikan kuota data kepada siswa, tetapi memahami secara penuh suasana dan kondisi pembelajaran pada masa pandemi COVID-19.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here