Pola Kehidupan Beragama dan Potensi Konflik Masyarakat Akan Dipantau Kemenag

Pesantren milik warga Syiah di Nangkernang, Sampang, Madura, dibakar massa. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Potensi konflik dan kekerasan dapat saja terjadi seiring meluasnya pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Isu yang melatarbelakangi dapat berbagai macam, mulai isu politik hingga isu agama.

Dalam Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag RI, terungkap bahwa masalah kekerasan masih menjadi salah satu perhatian dalam prioritas program empat tahun ke depan.

Wilayah yang luas, masyarakat yang heterogen, dan banyaknya agama serta aliran menjadi celah yang dapat menjadi pemicu konflik. Direktur Jenderal Bimas Islam Kemang RI, Kamaruddin Amin mengungkapkan, pihaknya akan meningkatkan intensitas penyelesaian konflik berbasis agama.

“Arah maupun dinamika keberagamaan serta perubahan sosial di era disrupsi informasi ini dapat berubah-ubah. Kita perlu menekankan moderasi beragama dengan berbagai perangkat yang kita miliki,” ungkap Kamaruddin Amin saat membuka rapat Renstra Ditjen Bimas Islam tahun 2020-2024 yang digelar melalui webinar, selasa (20/10).

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Ditjen Bimas Islam Kemenag,
Mohamad Agus Salim, mengingatkan, potensi salah paham berbasis agama masih mungkin mewarnai tahun-tahun ini. “Hal itu biasanya berawal dari paham keagamaam yang keliru. Maka tahun 2021 mendatang akan banyak hal yang kami dituntaskan terkait hal ini,” katanya.

Dalam Renstra 2020-2024, Ditjen Bimas Islam memprioritaskan pengarusutamaan Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan. Salah satu bagian dari itu adalah penguatan Moderasi Beragama sebagai cara pandang, sikap dan praktik beragama jalan tengah untuk meneguhkan toleransi, kerukunan, dan harmoni sosial.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here