Analis: Omar Bashir Menghadapi Oposisi Terbesar

Krisis kali ini adalah yang terbesar yang dihadapi Al-Bashir sejak menjadi presiden pada tahun 1989

Indonesiainside.id, Jakarta — Presiden Sudan, Omar al-Bashir menghadapi protes dan ancaman terbesar selama masa pemerintahannya sejak merebut kekuasaan pada tahun 1989, demikian kata para ahli.

Kekacauan yang terjadi dua minggu terakhir dengan mengorbankan 19 orang pada awalnya hanyalah sebuah protes terhadap kenaikan harga roti tetapi sekarang menyebar ke demonstrasi anti-pemerintah.

Kelompok hak asasi, Amnesty International, dikutip independent mengklaim, jumlah korban tewas mencapai 37 orang memaksa Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres untuk mengarahkan penyelidikan secepat mungkin.

Protes terbaru dipicu pada hari Rabu oleh keputusan pemerintah menaikkan harga roti dari satu pound Sudan ($ 0,02) menjadi tiga pound Sudan ($ 0,063).

Analis mengatakan bahwa konflik ini dan kegagalan untuk meningkatkan sektor pertanian di negara yang pernah dikenal sebagai pembuat roti menyebabkan utama ekonomi Sudan menurun, meskipun Washington mencabut sanksi perdagangan dua dekade pada tahun 2017.

“Ekonomi Sudan telah anjlok selama dekade terakhir. Saya tidak berpikir ledakan yang kita lihat akan ditundukkan, “kata dosen senior Universitas Harvard, Eric Reeves dikutip AFP.

Ekonomi Sudan terpukul setelah bagian selatan memisahkan diri dari utara pada 2011, yang mengambil sekitar 75 persen dari pendapatan minyak.

Laju inflasi melonjak sebesar 69 persen, kelangkaan bahan bakar dan bahan makanan naik ke harga yang belum pernah terjadi sebelumnya, juga telah memicu ketidakpuasan di kalangan masyarakat.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here