Perampasan Rumah Warga Palestina dan Kejahatan Israel Hari Minggu Menghina Dunia

Polisi Israel masuk ke rumah keluarga Abu Assab di Aqabat al-Khalidiya di Kota Tua. Merampas dan membiarkan pemukim Yahudi mengambil alih. Foto: PIC

Oleh: Nurcholis |

Melaui UU Pemukiman, penjajah Israel membolehkan perampasan tanah pribadi warga Palestina untuk permukiman liar Yahudi

Indonesianside.id, Jakarta — Sekelompok pemukim ilegal Israel hari Minggu menahan dan menyerang seorang warga Palestina di Kota Silat ad-Dhahr di Jenin.

Saksi mata mengatakan bahwa para pemukim Israel yang bertopeng, dengan tongkat di tangan mereka, menyerang pedagang sayur-sayuran Palestina di daerah itu dan memukuli salah satu dari mereka, lapor komunitas wartawan peduli Palestina Day of Palestina.

Sementara itu, di hari yang sama,  polisi Israel yang memagari rumah keluarga Abu Asab di Yerusalem (Baitul Maqdis) menyusul perintah pengadilan Israel yang secara ilegal memutuskan bahwa rumah itu adalah milik pemukim Yahudi.

“Mereka menghancurkan hidup kita, mereka mengambil rumah kita, mereka mengambil suamiku dan anakku .. keluar dari rumahku, ujar jeritan seorang wanita Palestina yang diusir dari rumahnya sendiri di Kota Tua Yerusalem (Baitul Maqdis).

Dalam kejahatan yang sama, pasukan penjajah Israel (IOF) hari Minggu menyerbu sebuah rumah Palestina di Kota Tua dan mengancam melakukan penggusuran sebagai awal untuk mengizinkan pemukim haram Yahudi pindah.

Menurut sumber-sumber lokal, pasukan polisi Israel menerobos masuk ke rumah keluarga Abu Assab di Aqabat al-Khalidiya di Kota Tua sementara pasukan lain mengelilingi rumah dan menutup jalan menuju ke sana.

Dikutip Palestine Information Centre (PIC), Hatem Abu Assab, yang tinggal bersama keluarganya di rumah itu, telah menerima pemberitahuan yang memerintahkannya segera mengungsi dari rumah nya sendiri, tetapi melalui pengacaranya ia berhasil menunda perintah penggusuran dari penjajah sampai 28 Februari.

Keluarga Abu Assab telah tinggal di rumah ini selama lebih dari 56 tahun dan mengajukan beberapa permohonan kepada warga Palestina di Yerusalem dan berbagai institusi untuk membantunya menentang keputusan penjajah untuk mengeluarkannya dari rumah.

Keluarga itu datang ke Kota Tua Yerusalem setelah pengusiran secara paksa dari lingkungan al-Baqa’a di Yerusalem barat pada tahun 1948 setelah pembantaian Deir Yassin.

Setelah mereka dipindahkan dari Yerusalem barat, kakek-nenek dari keluarga itu tinggal di sebuah kamar di lingkungan Bab al-Amoud di Kota Tua sebelum pindah ke rumah saat ini pada tahun 1952, yang mereka bagikan dengan keluarga Tufaha. Kemudian, keluarga Tufaha pindah ke tempat lain.

Polisi penjajah menangkap pemilik rumah dan membiarkan pemukim haram Yahudi mengibarkan bendera di atas atap (Foto: PIC)

Otoritas penjajah Israel menggunakan UU Pemukiman –yang dilarang secara internasional– yang diberlakukan untuk membenarkan keputusannya untuk mengusir keluarga-keluarga Palestina dari rumah mereka.

Tahun 2017, Israel meloloskan UU Pemukiman yang melegalkan puluhan permukiman liar (haram) Yahudi di wilayah penjajahan Tepi Barat, Palestina yang melanggar hukum internasional, ujar Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

12 Januari 2019 lalu, otoritas Israel menyerahkan perintah penggusuran kepada keluarga Sabbagh—yang berjumlah sekitar 45 orang—sehingga pemukim Israel dapat pindah ke rumah mereka.

Lima saudara laki-laki Sabbagh, istri, anak-anak, dan cucu mereka diberikan waktu sampai 23 Januari 2019 untuk meninggalkan rumah mereka.

Dengan UU Pemukiman yang disahkan parlemen Israel (Knesset) Israel mengizinkan perampasan tanah pribadi warga Palestina untuk permukiman liar Yahudi. Pemerintah Palestina menyebut keputusan itu sebagai alat untuk melegalkan pencurian. Sayangnya, dunia membiarkan kejahatan ini. (cak)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here