Al Jazeera Menangguhkan Dua Wartawan atas Video Holocaus

kantor Al Jazeera (AJ)

Oleh: Nurcholis |

Indonesiainside.id, Jakarta– Al Jazeera Network mengambil tindakan terhadap jurnalis dan menghapus video yang dianggap salah mengartikan peristiwa Holocaus. Jaringan yang berbasis di Qatar mengumumkan tindakan itu dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad (19/5).

Video itu, yang diterbitkan di platform berita Arab online Al Jazeera, AJ+, “melanggar standar editorialnya”, kata jaringan itu, yang merupakan perusahaan induk dari aljazeera.com. Konten tersebut dengan cepat dihapus dari halaman web AJ dan akun media sosial.

Direktur Eksekutif Digital Al Jazeera Yaser Bishr mengatakan, jaringan itu “sepenuhnya menolak konten ofensif yang dipermasalahkan” dan tidak akan mentolerir materi seperti itu di platform jaringan mana pun.
Klip video yang dipersoalkan itu mengklaim gerakan Zionis telah salah mengartikan peristiwa Holocaus, dan “mengadopsi narasi” bahwa Nazi membunuh enam juta orang Yahudi yang “diadopsi oleh gerakan Zionis . ”

Dima Khatib, mengatakan video itu diproduksi tanpa pengawasan. Mengumumkan peninjauan alur kerja di AJ untuk memastikan semua konten melalui saluran editorial yang tepat, Khatib juga meminta semua editor dan jurnalis AJ untuk mematuhi nilai-nilai editorial jaringan.

“Al Jazeera terus mematuhi nilai-nilai jurnalistik dari kejujuran, keberanian, keadilan, keseimbangan, kemandirian, kredibilitas, dan keragaman,” kata pernyataan itu.

“Selain itu, jaringan mengakui keragaman dalam masyarakat dengan semua ras, budaya, kepercayaan dan nilai-nilai mereka serta individu intrinsik.”

Ia juga mengatakan belum menghindar dari mengakui dan atau memperbaiki kesalahan pada konten editorial sejak awal. Al Jazeera adalah stasiun TV yang populer setelah serangan 11 September 2001, karena merilis pernyataan Osama Ben Laden.

Saat ini Al Jazeera menyaingi BBC dalam skala jumlah pemirsa yang diperkirakan mencapai 50 juta pemirsa. Ia juga mengklaim sebagai satu-satunya stasiun TV yang independen secara politik di Timur Tengah, bahkan tak sedikit dimusuhi di Timur Tengah sendiri atau di Israel.

Tahun 2015, pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman penjara tiga jurnalis Al Jazeera atas dakwaan membantu kelompok Ikhwanul Muslimin, yang paling ditakuti rezim Mesir. Terutama pasca kudeta pemerintahan sah pimpinan Dr Mohammad Mursi oleh Jenderal Abdul Fattah al Sisi.

Tahun 2017, Pemerintah Yahudi Israel, medesak upaya menutup kantor-kantor Al-Jazeera muncul setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuduh media yang kritis pada kejahatan Zionis-Israel itu menyiarkan hasutan. Bahkan Netanyahu mengatakan pada 27 Juli 2017 dia ingin Al-Jazeera diusir dari Israel. (cak)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here