544 Warga Sipil Suriah Terbunuh Serangan Rezim Bashar dan Sekutunya

Getty Images

Oleh: Nurcholis |

 

Indonesiainside.id, Jakarta–Setidaknya 130 anak-anak Suriah telah terbunuh di antara 544 warga sipil yang menjadi korban serangan pasukan rezim Bashar al Assad dan sekutunya, Rusia di Suriah utara, khususnya di Idlib sejak 26 April 2019 hingga minggu pertama Juli 2019.

Jet Rusia bergabung dengan tentara Suriah pada tanggal 26 April dalam serangan terbesar terhadap sebagian provinsi Idlib yang dikuasai kelompok oposisi dan berbatasan dengan Provinsi Hama Utara dalam eskalasi terbesar dalam perang antara Presiden Suriah, Bashar Al Assad, dan musuh-musuhnya sejak terakhir Musim panas.

Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR), yang memantau korban dan memberi pengarahan kepada berbagai lembaga PBB, mengatakan 544 warga sipil tewas dalam ratusan serangan yang dilakukan oleh Jet Rusia dan tentara Suriah termasuk 130 anak-anak. 2.117 orang lainnya terluka.

“Militer Rusia dan sekutu Suriah secara sengaja menargetkan warga sipil dengan catatan jumlah fasilitas medis yang dibom,”  kata ketua Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR) Fadel Abdul Ghany.

Kamis lalu, sebuah rumah sakit di Kafr Nabl menjadi target serangan udara ke-30 pada fasilitas medis.

Rusia dan sekutunya Suriah menyangkal jet-jet mereka mengenai wilayah sipil tanpa pandang bulu dengan munisi tandan dan senjata pembakar, yang menurut warga di daerah oposisi dimaksudkan untuk melumpuhkan kehidupan sehari-hari.

Moskow mengatakan pasukannya dan tentara Suriah mengklaim aksinya menangkis serangan teror gerilyawan Al-Qaeda yang menurut mereka dihuni penduduk, daerah-daerah yang dikuasai pemerintah, dan menuduh oposisi merusak perjanjian gencatan senjata yang disepakati tahun lalu antara Turki dan Rusia.

Bulan lalu Human Rights Watch (HRW) yang bermarkas di AS mengatakan operasi militer gabungan Rusia-Suriah telah menggunakan munisi tandan dan senjata pembakar dalam serangan itu, bersama dengan senjata peledak besar yang dijatuhkan udara dengan efek luas di daerah-daerah sipil berpenduduk, berdasarkan laporan oleh responden dan saksi pertama.

The Guardian dalam laporannya menjelaskan bahwa serangan menggunakan bom curah dan senjata terlarang dilakukan dengan maksud untuk melumpuhkan kehidupan sehari-hari warga di daerah tersebut yang mengakibatkan puluhan desa dan kota hancur.

Dampak serangan selama dua bulan terakhir pada Idlib digambarkan sebagai kampanye terburuk setelah wilayah tersebut sepenuhnya jatuh ke tangan lawan Bashar pada 2015.

“Seluruh desa dan kota kosong,” kata juru bicara White Helmet (Relawan Helm Putih) Ahmad al Sheikho.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pemboman tanpa henti telah menyebabkan setidaknya 300.000 orang meninggalkan rumah mereka dan sekarang berlindung di dekat perbatasan Suriah-Turki untuk menyelamatkan nyawa.

Bulan lalu, 11 organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa Idlib berada di ambang bencana di mana lebih dari 3 juta warga sipil, termasuk satu juta anak-anak, berada dalam risiko. (cak)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here