Sejak 2011 Sebanyak 100 Ribu warga Suriah Diculik Pasukan Rezim al-Assad

Oleh: Nurcholis

Indonesiainside.id, Jakarta—Damaskus–Lebih dari 100.000 warga Suriah telah hilang, diculik atau ditahan pasukan rezim Bashar al Assad sejak dimulainya perang delapan tahun lalu, kata Kepala Urusan Politik PBB Rosemary DiCarlo.

Pada saat yang sama, ia mendesak semua yang bertanggung jawab atas hilangnya warga Suriah, kembali dan memberikan informasi kepada keluarga mereka.

Dia mengatakan jumlah 100.000 orang Suriah yang hilang adalah perkiraan kasar dan PBB tidak dapat mengkonfirmasi angka pastinya, karena lokasi pusat penahanan mereka belum diakses dan terdeteksi.

DiCarlo, yang berbicara pada Dewan Keamanan PBB hari Rabu mengatakan, pemerintah Suriah bertanggung jawab atas sebagian besar kasus, dan banyaknya orang telah menghilang di penjara dan tidak pernah mendengar kabar lagi.

“Kematian dalam penahanan terus terjadi, banyak yang diduga sebagai akibat dari penyiksaan, kelalaian atau kondisi manusiawi,” katanya dalam sebuah pertemuan tentang orang hilang dalam konflik.

Dia juga menambahkan kelompok oposisi bersenjata juga dianggap telah melakukan penahanan sewenang-wenang, penyiksaan dan penculikan warga sipil di daerah-daerah wilayah kendali mereka, dan menyerukan “keadilan dan pertanggungjawaban” untuk pelanggaran harus dipastikan “terlepas dari para pelakunya”.

Sejak awal perang saudara Suriah, rezim Bashar al-Assad telah menangkap dan menahan puluhan ribu warga Suriah yang menentang pemerintahannya. Banyak yang didakwa dengan tuduhan bergabung dengan kelompok teror atau oposisi bersenjata, yang lain hanya aktivis yang ikut ambil bagian dalam aksi protes.

Penahanan berlanjut hingga hari ini. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SHOR) mengatakan selama bulan Juni ribuan warga Suriah telah ditangkap secara sewenang-wenang selama setahun terakhir, karena pemerintah berusaha untuk menegaskan kembali kendali di daerah-daerah negara yang direbut kembali dari oposisi.

Menyusul kekalahan pasukan oposisi di sebagian besar negara itu pada awal 2018, keamanan negara Suriah mengalihkan perhatian mereka untuk menyingkirkan segala yang dirasakan sebagai ancaman pemerintahan Bashar al Assad.

Lebih dari 3.600 orang telah ditahan antara April 2018 dan Juni 2019, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SHOR). Diantara mereka adalah perempuan dan anak-anak.

Sementara beberapa orang telah dibebaskan setelah diinterogasi, 2.400 dari mereka masih ditahan di penjara terkenal di negara itu. Banyak masuk penjara Suriah dan tidak pernah berhasil keluar lagi hidup-hidup.

Amnesty International menggambarkan penjara Saydnaya, sebuah penjara militer besar di pinggiran Damaskus, sebagai tempat di mana “pembunuhan, penyiksaan, penghilangan nyawa secara paksa dan pemusnahan” telah dilakukan selama bertahun-tahun “sebagai bagian dari serangan sistematis terhadap penduduk sipil”.

Kelompok hak asasi manusia memperkirakan bahwa antara 5.000 dan 13.000 orang dieksekusi di luar proses hukum di sana antara September 2011 dan Desember 2015 saja.

Kelompok-kelompok bersenjata yang menentang Rezim Assad juga dianggap bersalah atas penangkapan sewenang-wenang terhadap tahanan, kata DiCarlo.

Pasukan Demokrat Suriah (SDF) yang didukung AS juga melakukan penahanan semacam itu, termasuk menangkap orang yang berusaha menghindari wajib militer, tambahnya.

Pertemuan Dewan Keamanan PBB hari Rabu adalah kesempatan langka bagi keluarga dimana orang-orang yang dicintainya telah dihilangkan secara paksa untuk memohon langsung kepada kekuatan internasional.

Amina Khoulani, salah satu pendiri Families for Freedom, mengatakan kepada PBB bahwa dia dan suaminya ditahan oleh pemerintah Suriah, delapan tahun yang lalu. Masing-masing selama enam bulan dan dua setengah tahun.

“Kami berdua beruntung bisa bertahan hidup, tetapi banyak orang lain tidak beruntung,” katanya, menjelaskan bahwa dua anggota keluarganya dijatuhi hukuman mati pada 2013, “pada hari dan menit yang sama”.

Dia mengatakan UNHRC telah gagal menyelamatkan para tahanan Suriah dan keluarga mereka dari rezim teroris Suriah.

“Adalah tanggung jawab Anda (UNHRC) untuk melindungi warga Suriah agar tidak ditindas, disiksa, dibunuh, dan ditahan, dan ini tentu saja merupakan pelanggaran hukum internasional,” katanya dikutip The Independent.

Sementara itu, rezim al-Assad menggambarkan tindakan PBB dalam membela rakyat Suriah sebagai pengkhianatan dan menolak untuk bekerja sama dengan organisasi tersebut.

Perwakilan Rusia di PBB, Dmitry Polyansky mengatakan rezim Suriah mengklaim bahwa mereka belum diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan atas hilangnya warga Suriah, sementara mereka secara terbuka membenarkan darah warga mereka sendiri dengan meluncurkan pembunuhan massal terhadap orang tak bersalah.

Sejak perang Suriah, terutama dalam beberapa bulan terakhir, rezim Bashar al Assad telah dilaporkan secara brutal menindas orang-orang tak berdosa seperti penculikan, pemerkosaan, penyiksaan dan pemenjaraan.

Pada bulan Juni, Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah melaporkan bahwa lebih dari 14.000 warga telah terbunuh oleh penyiksaan oleh rezim al-Assad sejak dimulainya perang saudara.

Pekan lalu, Pengamat Hak Asasi Manusia Suriah mengungkapkan bahwa pada Juli tahun ini, total 598 warga Suriah ditahan secara sewenang-wenang oleh rezim al-Assad. (ck)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here