Serangan & Intoleransi Meningkat, Minoritas Muslim Australia Minta Perlindungan

Aksi protes diskriminasi dan intoleransi di Asutralia. Federasi Dewan Islam Australia menilai RUU tentang Diskriminasi Agama tidak cukup menjangkau intoleransi yang kian marak saat ini atas minoritas muslim. (AAP)

Oleh: Eko P

Indonesiainside.id, Sydney – Tak seperti di Indonesia, dimana umat Islam menjunjung tinggi toleransi terhadap minoritas, di Australia aksi intoleransi terhadap minoritas Islam makin meningkat belakangan ini. Bukan hanya konten-konten online anti Muslim yang semakin lazim tetapi juga serangan terhadap orang Islam meningkat.

Kekhawatiran mengenai serangan Islamophobia makin meningkat menyusul peristiwa pembantaian jamaah masjid di Selandia Baru, ketika melaksanakan ibadah shalat Jumat, yang dilakukan tersangka teroris asal Australia, Brenton Tarrant.

Bulan lalu, masjid Holland Park Mosque di Brisbane juga menjadi sasaran aksi vandalisme. Tembok masjid itu dicoret-coreti simbol-simbol NAZI serta menyebut-nyebut nama teroris Brenton, kutip ABC News, Kamis (3/10).

Karenanya, Federasi Dewan Islam Australia memperingatkan adanya peningkatan diskriminasi terhadap umat Islam yang semakin rentan. Umat Islam rentan jadi sasaran karena sangat mudah diidentifikasi melalui nama, pakaian dan tempat ibadah mereka.

Lembaga yang mewadahi sekitar 150 organisasi Islam di Australia ini kini menempuh upaya dengan memasukkan naskah untuk pembahasan RUU Diskriminasi Agama yang disusun pemerintah setempat.

Usulan yang diajukan ketua federasi Dr Rateb Juneid, meminta draft RUU diperbaiki agar bisa memberikan perlindungan lebih besar terhadap umat Islam.

“Masyarakat Australia semakin tidak toleran terhadap minoritas, khususnya minoritas agama,” seperti yang disebutkan dalam naskah usulan.

Dikatakannya, perlu adanya perlindungan UU agar setiap orang berhak menjalankan agamanya. Hal ini juga sangat diperlukan untuk mencegah diskriminasi.

Karena itu, lembaga ini meminta dimasukkannya ketentuan-ketentuan mengenai fitnah dan penghinaan yang selama ini dirasakan umat Islam di Australia.

Masa konsultasi publik terhadap RUU ini telah berlangsung selama sebulan dan berakhir hari Rabu (2/10).

Jaksa Agung Australia Christian Porter menggambarkan RUU ini sebagai perisai untuk melindungi umat beragama dan bukannya pedang yang memungkinkan seseorang melakukan diskriminasi.

Naskah RUU yang ada sekarang menyebutkan, perbuatan diskriminasi terhadap seseorang karena alasan agama, akan dikenai hukuman pidana.

Selain itu, perusahaan-perusahaan besar yang memecat seseorang karena menyuarakan keyakinan agamanya, akan diwajibkan membuktikan kesulitan keuangan yang ditimbulkan pegawainya itu.

Federasi Dewan Islam Australia mempertanyakan mengapa ketentuan ini tidak diterapkan juga bagi semua perusahaan.

Namun, mereka menekankan jangan sampai langkah perlindungan agama yang kuat akan mengorbankan kepentingan orang lain.

“Kami meminta pemerintah untuk mencari solusi yang bisa diterapkan, yaitu menyeimbangkan hak-hak seluruh umat beragama dan yang lainnya,” katanya. (EP/ABC)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here