Cina Pusing Tujuh Keliling Gara-Gara Babi

Ilustrasi babi. Foto: Net

Indonesiainside.id, Jakarta – Wabah Demam Babi Afrika telah menurunkan populasi babi di Cina, dan membuat konsumen di negara itu menderita. Beberapa konsumen mencoba beralih ke menu daging lainnya karena menu babi menjadi barang yang mahal di sana.

Menurut rilis Biro Statistik Nasional Cina, harga daging babi saat ini hampir 70% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Lonjakan harga yang sangat dramatis itu sampai-sampai mendorong inflasi Cina sebesar 3% pada September, dari 2,8% bulan sebelumnya.

Naiknya harga babi, salah satunya disebabkan menurunnya populasi ternak babi, padahal Cina adalah rumah bagi setengah populasi semua babi yang ada di planet ini. Namun, saat ini jumlah kawanan babi telah menyusut menjadi sekitar 130 juta ekor sejak wabah pertama kali menyerang sekitar 13 bulan lalu.

Hal ini ditambah lagi banyak petani enggan mengisi kembali kandang babi miliknya setelah ternak mereka dimusnahkan karena terkena penyakit ini. Mereka tak mau lagi merugi karena wabah ini 100 persen membuat babi mati.

Bagi Cina, mahal dan langkanya daging babi membuat sakit kepala pemerintah lokal. Karena babi adalah menu makanan pokok. Daging babi mengisi 70% dari total konsumsi daging di Cina, menurut data resmi untuk tahun 2018.

Rata-rata, seseorang di Cina makan 20 kilogram daging babi setiap tahun. Dengan kata lain, setiap harinya warga Cina menyantap daging babi hamburger. (EP)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here