Pernah Disebut Teroris, Bashar al Assad Kini Balas Erdogan dengan Sebutan Perampok

Bashar al Assad mengunjungi Angkatan Darat Suriah di Idlib (SANA)

Indonesiainside.id, Idlib-Presiden Suriah Bashar al Assad mengatakan pada hari Selasa mengatakan, mengalahkan milisi oposisi di wilayah barat laut Idlib adalah kunci untuk mengakhiri perang delapan tahun di negara itu.

“Semua wilayah di Suriah memiliki kepentingan yang sama, tetapi yang mengatur prioritas adalah situasi militer di lapangan,” kata Assad saat bertemu dengan personil Angkatan Darat Suriah di garis depan di desa al-Habit, Idlib.

Dalam pertemuan itu, Presiden al-Assad mengatakan, “Erdogan adalah seorang perampok … Dia telah merampok pabrik-pabrik, gandum dan minyak, dan hari ini dia merampok tanah.”

Presiden al-Assad menambahkan “Idlib telah menjadi pos terdepan, dan pos terdepan biasanya ada di garis depan, tetapi dalam hal ini pertempuran ada di timur dan pos terdepan di barat untuk membubarkan pasukan Syrian Arab Army.”

Dia menambahkan, “Ketika kita menghadapi agresi atau perampokan, kita harus saling berdiri dan berkoordinasi di antara kita, tetapi beberapa warga Suriah belum melakukan itu, terutama selama tahun-tahun pertama perang … Kami mengatakan kepada mereka untuk tidak bertaruh pada luar negeri, tetapi pada tentara, masyarakat dan tanah air …. Tapi mereka tidak mendengarkan, dan saat ini mereka bertaruh pada AS,” katanya dikutip kantor berita Suriah Pro-Assad, SANA.

Pernyataan Bashar nampaknya merujuk pada operasi militer Turki bulan ini ke perbatasan Suriah timur laut untuk mengusir milisi sekutu AS dan Suriah, YPG/PKK yang dikenal berafiliasi pada komunisme-marxisme itu.

Pasukan Pro-Assad saat ini telah mengendalikan sekitar 60 persen wilayah di Suriah, setelah bantuan total Rusia, Iran dan milisi Syiah dari berbagai negara.

Idlib menikmati jeda serangan udara setelah Damaskus dan sekutunya Moskow mengumumkan gencatan senjata pada 31 Agustus setelah lima bulan pemboman yang menurut PBB menewaskan ratusan orang.

Wilayah Idlib yang berpenduduk sekitar tiga juta orang telah dilindungi oleh kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Rusia sejak Agustus, tetapi pertempuran kecil masih terus terjadi.

Pejuang rezim yang didukung Rusia selama berminggu-minggu telah memangkas tepi provinsi yang berbatasan dengan Turki yang merupakan kubu oposisi terakhir di luar kendali Assad.

Dengan dalih menyerang teroris, pasukan pro-pemerintah dibantu Rusia dan Iran telah mengerahkan senjata berat dan pesawat pembom denngan menargetkan sekolah, rumah sakit, dan daerah perumahan lainnya di Idlib. Menurut PBB setidaknya 51 fasilitas kesehatan telah rusak atau hancur dalam lima bulan terakhir.

Perang Suriah telah menewaskan lebih dari setengah juta warga dan jutaan lain terlantar di negeri orang sejak Rezim Bashar al Assad memerangi rakyatnya yang menginginkan perubahan pada 2011. Pengunjuk rasa dilawan dengan senjata tajam, bom-bom gentong dan pesawat tempur.

Turki dan Negara Arab diantara Negara Teluk yang menginginkan Bashar al-Assad lengser guna menghindari kemelut di Suriah. Tahun 2017, Erdogan pernah terang-terangan menyebut Bashar al Assad  telah melakukan aksi terorisme Negara.

“Assad jelas seorang teroris yang telah melakukan terorisme negara,” sebut Erdogan dalam konferensi pers yang disiarkan televisi setempat,  dilansir Reuters dan AFP, Kamis (28/12/2017). Konferensi pers digelar di Tunis usai Erdogan bertemu Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi.

“Sungguh tidak mungkin untuk maju ke depan dengan Assad di Suriah. Bagaimana bisa kita menyongsong masa depan dengan seorang Presiden Suriah yang telah membunuh nyaris sejuta warganya sendiri?” imbuh Erdogan dalam pernyataannya yang sangat keras.

“Bashar al-Assad merupakan seorang teroris… Kita tidak bisa membiarkan orang ini terus melanjutkan pekerjaannya. Jika kita biarkan, maka tidak akan adil (bagi rakyat Suriah yang telah tewas),” imbuh Erdogan dalam pernyataannya.

Pernyataan Erdogan ini disampaikan beberapa hari setelah pihak-pihak yang terlibat perundingan sepakat menggelar kongres perdamaian untuk konflik Suriah di Sochi, Rusia pada akhir Januari 2018 mendatang. Upaya sebelumnya untuk menggelar kongres perdamaian di Sochi pada November lalu gagal karena tidak adanya kesepakatan.

Turki sampai hari ini telah menampung hampir 4 juta pengungsi Suriah, jumlah pengungsi paling besar dibanding negara Barat. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here