7 Orang Pengunjuk Rasa di Irak Tewas, Militer Kepung Lembaga Pendidikan

www.thebaghdadpost.com

Indonesiainside.id, Baghdad-Tujuh orang terbunuh pada hari Kamis ketika pasukan keamanan Irak menembakkan peluru tajam dan gas air mata ke arah demonstran di Baghdad, sumber keamanan dan medis mengatakan, dalam kekerasan baru yang mematikan ketika pihak berwenang berusaha untuk menghancurkan protes anti-pemerintah.

Tembakan diarahkan langsung ke kepala, kata sumber itu, menambahkan bahwa setidaknya 78 orang terluka dalam kerusuhan itu, kutip Al Jazeera.

Polisi mengatakan sebelumnya seorang pemrotes tewas di dekat kota Sinak di Baghdad.

Dua pengunjuk rasa yang terluka kritis meninggal di rumah sakit kemudian, satu dari yang terluka akibat tembakan langsung ke kepala dan yang lainnya akibat tabung gas air mata ke kepala, kata polisi dan sumber rumah sakit.

Tiga lainnya terbunuh di kemudian hari, termasuk dua oleh tembakan langsung di dekat Jembatan Ahrar.

Sumber-sumber rumah sakit mengatakan beberapa pengunjuk rasa yang terluka mengalami luka-luka akibat senjata tajam dan lainnya terluka oleh peluru karet dan tabung gas air mata.

Hingga hari ini, protes sedang berlangsung dengan demonstran ‘mengendalikan’ tiga jembatan utama di Baghdad pusat, mengarah ke Zona Hijau di mana gedung-gedung pemerintah dan kedutaan asing berada.

Sumber-sumber keamanan dan medis mengatakan kepada Reuters bahwa polisi anti huru hara telah mengulangi taktik penumpasan mereka sebelumnya menembak peluru langsung dan gas air mata langsung ke pengunjuk rasa.

Hari Senin, sumber-sumber keamanan mengatakan bahwa massa di Irak selatan telah memblokir pelabuhan pengiriman utama Umm Qasr untuk kedua kalinya sementara yang di Baghdad telah menutup Bank Sentral Irak.

Kepung Sekolah dan Kampus

Pada hari Kamis, pasukan keamanan Irak juga dilaporkan mengepung lembaga pendidikan di seluruh Baghdad untuk mencegah siswa ikut turun jalan, mengambil bagian dalam protes anti-pemerintah saat dua orang lagi terbunuh dalam bentrokan semalam di ibukota.

Para pelajar di Baghdad dan di kota-kota selatan telah bolos sekolah untuk mengambil bagian dalam protes, meskipun pemerintah memerintahkan sekolah dan universitas untuk masuk seperti biasa.

Sebuah media lokal dikutip laman thebaghdadpost,  menunjukkan bahwa dinas intelijen Irak telah memaksa sekolah untuk memberi mereka catatan kehadiran guru dan siswa untuk melihat siapa saja yang absen di kelas.

Ratusan ribu warga Irak di Baghdad dan di selatan telah memulai unjuk rasa sejak awal Oktober.

Para demonstran menyerukan perubahan radikal dalam sistem politik Irak, yang mereka katakan gagal untuk memenuhi kebutuhan mereka tetapi hanya melayani kepentingan elit pemerintahan kecil dan negara-negara asing seperti Iran.

Mereka mengutuk kurangnya kesempatan kerja, keadaan layanan publik yang suram, korupsi pemerintah yang meluas dan pengaruh Syiah-Iran di Negeri 1001 Malam itu.

Lebih dari 330 orang telah tewas ketika pasukan keamanan menanggapi demonstrasi yang sebagian besar damai dengan menembakkan peluru tajam, peluru karet dan tabung gas air mata kepada pengunjuk rasa. Sementara sekitar 12.000 lainnya terluka, menurut Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Irak. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here