Ratusan Pendukung Aung San Suu Kyi Beri Dukungan di Yangon

Pendukung San Suu Kyi beri dukungan @Thein50373586

Indonesiainside.id, Yangoon-Sekitar 700 pendukung pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi berkumpul di Yanggon untuk menyatakan dukungan mereka menjelang persidangan kasus genosida terhadap etnis Roingya di Pengadilan Internasional di Den Haaq.

Pemimpin Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memimpin Suu Kyi membawa spanduk bertuliskan ‘Kami berdiri bersamamu, Bunda Suu’ memenuhi Kantor Balai Kota Yangon kemarin sambil mengibarkan bendera Myanmar dan memutas musik serta pembacaan puisi.

Aung San Suu Kyi adalah pemimpin yang paling berani di dunia,” kata Saw Phoe Kwar, seorang penyanyi reggae yang dikenal karena lagu hitnya ‘Love Each Other’ dan ‘Stop the Hate’, mengatakan kepada massa, sambil melambaikan bendera dan melantunkan mantra.

“Kita harus menunjukkan persatuan kita,” kata penyelenggara Aung Thu. “Jika seorang pemimpin negara mengatakan lemon itu manis, kita harus mengatakan itu manis,” katanya dikutip Reuters.

Sidang kasus genosida ini  akan dimulai di Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag pada 10 Desember setelah diajukan oleh Gambia atas nama Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Gambia, sebuah negara kecil di Afrika Barat berpenduduk mayoritas Muslim yang mendapat dukungan dari 57 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), mengajukan gugatan bulan lalu terhadap Myanmar karena aksi genosida, termasuk pembunuhan massal dan pemerkosaan Muslim.

Tuduhan tersebut terkait dengan kampanye kekerasan militer Myanmar terhadap komunitas Muslim Rohingya pada Agustus 2017.

Kasus tersebut menuduh bahwa tindakan Myanmar terhadap etnis Muslim Rohingya dimaksudkan untuk memberantas sebagian atau semua etnis minoritas.

Mayoritas Buddhis Myanmar membantah melakukan genosida, membela militer memerangi gerilyawan yang menyerang pos keamanan.

Kantor Suu Kyi mengatakan akan terbang ke Den Haag untuk melakukan dengar pendapat pertama, mulai 10 Desember, yang disebutnya untuk “membela kepentingan nasional Myanmar”.

Meskipun aksi unjuk rasa yang diorganisir oleh para pendukungnya, ada tanda-tanda lain bahwa Suu Kyi telah mengumpulkan dukungan rakyat melalui keputusannya.

Setidaknya beberapa hari terakhir ini telah membawa kebangkitan kampanye online ‘Stand with Daw Aung San Suu Kyi’,  di mana pengguna Facebook mengubah gambar profil mereka menjadi gambar-gambar penasihat negara.

Kampanye pertama kali menjadi viral di puncak kekerasan 2017.

Pencilo, seorang influencer media sosial yang populer, memohon 1,1 juta penggemar Facebook-nya untuk bergabung dengannya dalam perjalanan tim ke Den Haag, menggunakan agen perjalanan yang menawarkan tiket diskon.

Kekerangan Rohingya

Di seluruh Myanmar, etnis Rohingya dicerca sebagai imigran ilegal dari Bangladesh meskipun mereka bisa melacak nenek memiliki nenek moyang selama ratusan tahun dan tuduhan kekejaman terhadap mereka secara luas disangkal sebagai berita palsu.

Reputasi Suu Kyi merosot di titik terendahnya di luar negeri akibat sikap diamnya atas kekejaman terhadap Muslim Rohingya, tetapi mantan peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu justru dianggap menikmati dukungan luar biasa di tempatnya.

Tidak semua orang mendukung Suu Kyi. Ada suara-suara berbeda yang datang dari berbagai kelompok etnis minoritas Myanmar – salah satunya dari penganut Buddha Bamar – yang mengkritik Suu Kyi karena  dianggap gagal menepati janji mengakhiri pertempuran dengan kelompok-kelompok bersenjata untuk mencari otonomi yang lebih besar.

Pertempuran di perbatasan telah meningkat dan kelompok-kelompok seperti Shan dan Kachin juga menuduh militer melakukan kekejaman.

Tiga dari kelompok bersenjata etnis terbesar juga mengeluarkan pernyataan yang mendukung penyelidikan ICJ, sementara  Karen National Union, menolak laporan bahwa mereka telah setuju mendukung pemerintah.

“Situasi yang dihadapi Rohingya adalah situasi yang sama yang dialami Karen sejak dulu,” kata mantan wakil ketua kelompok itu, Naw Zipporah Sein, kepada Reuters, “Militer melakukan itu pada Karen. Sekarang militer telah melakukannya pada etnis Rohingya. ”

Lebih dari 700.000 kelompok etnis Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh setelah kampanye penghapusan yang melibatkan insiden pemerkosaan, pembunuhan dan pembakaran.

Satu-satu hadiah dan pemberian kehormatan terhadap Suu Kyi dicabut dan dilucuti akibat sikap diamnya terhadap penganiayaan di Rakhine.

Tahun 2018, Dewan Kota Newcastle di inggris mencabut gelar kehormatannya karena dinilai tak pantas menyandang anugerah sebagai Tokoh Perdamaian.

Tahun 2017, Dewan Kota Oxford juga mencabut penghargaan Freedom of the City  yang pernah diberikan untuknya tahun 1997.

St Hugh’s College di Universitas Oxford, tempat Suu Kyi mempelajari politik, juga mencopot foto Aung san Suu Kyi dari dinding kampus.

Anggota Dewan Kota Dublin juga memutuskan menarik penghargaan Freedom of Dublin City yang pernah diberikan pada Suu Kyi.

Sementara  Organisasi Pendidikan, Ilmu, dan Budaya Islam (ISESCO) menyatakan Suu kyi “sudah tidak berhak menyandang gelar itu karena apa yang dia lakukan di negaranya, di bawah kepemimpinannya, terhadap warga minoritas Muslim Rohingya.” (CK)

 

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here